Dongkrak Daya Saing, Tingkatkan Kualitas Kemasan Produk IKM

232

LEBAK – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, meminta pelaku industri kecil dan menengah (IKM) meningkatkan kualitas kemasan dan merek produk yang lebih menarik.

“Kita berharap pelaku IKM berinovasi untuk meningkatkan kualitas kemasan itu,” kata Plh Kepala Bidang Industri Kecil Disperindag Kabupaten Lebak, Yasin di Lebak, Minggu.

Menurut Yasin, tujuan peningkatan kualitas kemasan dan merek produk yang lebih menarik guna mendongkrak daya saing IKM nasional agar kompetetif di tingkat global.

Saat ini, pelaku IKM dituntut untuk bersaing pasar domestik maupun global karena permintaan cenderung meningkat.

Pemerintah daerah telah melakukan pelatihan peningkatan kualitas kemasan dan merek produk yang menarik agar membuat konsumen menarik juga memiliki nilai jual di pasaran.

“Kami terus mengembangkan pelatihan kemasan agar produk IKM mampu menembus pasar domestik dan mancanegara,” ujarnya menjelaskan.

Ia juga mengatakan pelaku IKM dapat menerapkan standar produk yang inovatif dan kreativitas penciptaan desain terbaru, karena pasar global cukup kompetitif sehingga harus mampu bersaing pasar.

Selama ini, kata dia, produk IKM di Kabupaten Lebak relatif kalah saing dengan produk impor maupun pabrikan karena kemasan dan merek produk tidak menarik.

Untuk itu, Disperindag Lebak terus meningkatkan kualitas pengemasan IKM agar bisa menembus pasar domestik hingga mancanegara.

“Kami berharap pelaku IKM dapat meningkatkan kualitas kemasan sehingga menjadikan andalan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Yasin menyebutkan, jumlah pelaku IKM di Kabupaten Lebak tercatat 14.217 unit usaha dapat menyerap tenaga kerja hingga 28.346 orang.

Mereka para pekerja itu memiliki penghasilan rata-rata Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per hari.

Adapun para pelaku IKM itu bergerak di bidang kerajinan tangan, alat rumah tangga, mebel, gula aren, batu kalimaya, bilik, batu fosil, aneka makanan olahan dan minuman serta anyam-anyaman.

Disamping itu juga produk masyarakat Badui antara lain tenun, souvenir, tas dan batik.

“Kami optimistis ke depan produk IKM Lebak bisa bersaing pasar global,” katanya.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Lebak, Jajuli mengatakan, pihaknya hingga kini mempromosikan produk IKM agar dilirik investor.

Selain itu juga pihaknya menjalin kerja sama di perusahaan ritel, seperti Indomart, Giant, Carrefour dan Alfamart.

Saat ini, delapan produk IKM sudah diterima perusahaan ritel, diantaranya produk kopi aroma Badui, labeur jahe, gula semut, aneka makanan ringan, abon ikan, stik kenang, sale pisang dan kerupuk emping.

Pelaku IKM harus memenuhi persyaratan sesuai standar yang diberlakukan perusahaan ritel tersebut.

Persyaratan itu di antaranya kemasan, pemberian sertifikasi halal yang diterbitkan MUI, sertifikasi organik, perizinan produk industri rumah tangga (PIRT), pemasangan barcode dan terdaftar di BPOM.

“Semua pelaku usaha produk IKM itu dilakukan oleh masyarakat dengan nilai investasi antara Rp25 juta sampai Rp100 juta,” katanya. (Ant)

Lihat juga...