Dua Nelayan Sultra Disandera Abu Sayyaf

191
Ilustrasi wilayah Filipina - Foto: Dokumentasi CDN

KENDARI – Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi, meminta Pemerintah Indonesia melakukan upaya diplomatik untuk menyelamatkan dua Warga Negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Kedua WNI tersebut, berasal Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra). “Pemerintah Indonesia diharapkan serius menemukan jalan, untuk menyelamatkan dua warga negara Indonesia asal Wakatobi yang sehari-hari bermata pencaharian sebagai nelayan dari penyanderaan kelompok Abu Sayyaf,” kata Ali Mazi, Kamis (21/2/2019).

Masyarakat dan Pemprov Sultra berharap, kedutaan besar Indonesia di Manila, berperan aktif mencari tahu keberadaan kedua WNI. Informasi tersebut dibutuhkan oleh keluargaa sandera yang ada di Indonesia. “Atase Indonesia maupun Filipina, harus berperan untuk menyelamatkan sandera. Kedua negara bersahabat, penting melakukan negosiasi dengan kelompok Abu Sayyaf,” ujar Ali Mazi.

Dua WNI yang disandera Abu Sayyaf, berdomisili di Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Mereka adalah, La Hariadi bin La Rere asal Desa Kalimas dan La Heri Ardiansyah bin Herman warga Desa Sandi, Kecamatan Kaledupa. Salah satu kerabat korban penyanderaan, Fitriyani membenarkan, informasi penyanderaan yang dialami kedua warga Sultra tersebut.

Sebelumnya, beredar video amatir berdurasi 30 detik melalui media sosial, tentang dua sandera yang ditutup mulutnya dengan lakban berwarna coklat muda sembari memegang spanduk berbahan kertas karton warna putih.

Pihak keluarga meminta Presiden RI, Joko Widodo berupaya menyelamatkan kedua sandera dari tangan kelompok Abu Sayyaf, Filipina. “Pak Presiden, selamatkan saudara kami, asal Kaledupa yang disandera Abu Sayyaf,” kata Fitriyani.

Beredar pula video korban sandera La Hariadi bin La Rere dan La Heri Ardiansyah dengan mata tertutup kain hitam. Mereka dikelilingi lima orang berpakaian seragam loreng dan bersenjata lengkap. Salah satu di antaranya menempelkan sebilah parang atau golok di leher sandera, sembari dipaksa untuk bicara.

“Saya adalah Warga Negara Indonesia, pekerjaan saya nelayan di Sabah, Sandakan. Saya kena tangkap oleh Abu Sayaf di Laut Sandakan. Saya minta perhatian pemerintah Republik Indonesia terutama Presiden dan Bapak Dadang yang mengurus,” ujar salah satu sandera di dalam video amatir yang beredar di media sosial. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...