hut

Eksibisi ke Luar Negeri, Seniman Terkendala Sertifikat

YOGYAKARTA  – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan, sebagian seniman Indonesia termasuk Yogyakarta saat ini masih terkendala dengan tidak memiliki sertifikat profesional bidang seni untuk melakukan eksibisi ke luar negeri.

“Sekarang ini semakin banyak pekerja seni profesional dari luar negeri dengan sertifikat internasional yang bekerja di Indonesia, namun sebaliknya untuk eksibisi ke luar negeri seniman kita sering dipersulit karena tidak memiliki sertifikat,” kata Sultan di Yogyakarta, Minggu.

Oleh karena itu, kata Sultan, pendirian kampus Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya Yogyakarta oleh pemerintah daerah sinergi dengan Kemenristekdikti yang diresmikan pada Sabtu (2/2) dapat meluluskan alumni bersertifikat.

“Kehadiran akademi komunitas ini adalah untuk menghasilkan lulusan bersertifikat, agar berpeluang untuk bisa tampil bahkan di arena internasional,” kata Gubernur DIY.

Oleh karena itu, Sultan mengharapkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dapat berperan dalam mempermudah dan mempercepat proses pengembangan akademi dan membantu merekrut staf pengajar serta instruktur yang diperlukan.

“Dengan demikian, lulusannya menjadi tenaga seniman profesional bersertifikat internasional sesuai standar kualifikasi kompetensi bidang seni yang menjadi keahliannya,” katanya.

Sultan mengatakan, selama ini lulusannya selain yang mandiri, kebanyakan diterima sebagai pendamping budaya di desa-desa setelah lolos seleksi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan, DIY memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban yang adiluhung dan telah mewariskan nilai-nilai budaya yang tinggi serta menjadi kebanggaan Yogyakarta maupun bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, kata dia, pengakuan akademis terhadap para pelaku seni merupakan keniscayaan untuk menghargai kompetensi mereka sebagai penjaga warisan budaya, sehingga para pelaku seni yang sebagian belajar secara otodidak bisa mendapat pengakuan akademik.

“Atas kondisi itu, maka Pemda perlu memiliki sebuah akademi komunitas seni budaya. Namun karena kendala regulasi, maka pendiriannya dibina oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sebagai pendidikan di luar domisili yang dimulai tahun ajaran 2014/2015,” katanya. (Ant)

Lihat juga...