hut

Gangguan Gajah di Aceh Masih Akan Berlanjut

Ilustrasi gajah - Dok CDN

BANDA ACEH – Konflik antara gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) dengan manusia di Povinsi Aceh diprediksikan masih akan terus berlanjut. Gangguan dari gajah masih akan terus terjadi, selama pemerintah tidak mencengah adanya pengalihan fungsi hutan lindung menjadi kawasan perkebunan.

“Konflik gajah itu tidak akan pernah berakhir sampai gajah habis, karena hutan lindung terus beralih fungsi menjadi proyek energi, tambang dan perkebunan,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, M Nur, Kamis (14/2/2019).

Populasi gajah sumatera dari catatannya sudah berubah, karena adanya alih fungsi lahan yang sangat tinggi di Aceh. Saat ini, jalur satwa dilindungi-pun, telah menjadi wilayah industri dan perkebunan. “Gajah itu sudah hidup di luar kawasan, karena jalur lintasannya berubah fungsi. Gajah tidak akan berkonflik dengan manusia, jika wilayah hidupnya dilindungi,” jelas M Nur.

Konflik gajah sumatera disebabkan dua faktor, yaitu pemburuan gading dan pengalihan fungsi hutan lindung. Kedua hal tersebut, menyabkan satwa dilindungi turun ke areal perkebunan hingga permukiman penduduk. Konflik gajah sering terjadi disejumlah kabupaten dan kota di Aceh meliputi, Bener Meriah, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh Tenggara dan Aceh Barat hingga Kabupaten Aceh Selatan.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mencatat, sepanjang 2017, di provinsi paling barat Sumatera tersebut, terjadi konflik gajah 103 kasus. Di 2018 secara keseluruhan ada 73 kasus. Kemudian, di awal 2019, konflik gajah masih kembali terjadi. Terbaru, gajah sumatera merusak belasan hektare kebun warga di Kabupaten Bener Meriah, Pidie, Aceh Barat Hingga Kabupaten Aceh Utara. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!