Gunung Anak Krakatau Alami Aktivitas Kegempaan Vulkanik dan Tektonik

Editor: Satmoko Budi Santoso

462

LAMPUNG – Laporan aktivitas gunung api, Gunung Anak Krakatau (GAK) mencatat, gunung di Selat Sunda tersebut mengalami kegempaan hembusan, vulkanik dalam, tektonik dalam, tektonik lokal dan tektonik jauh.

Kondisi tersebut dibenarkan Andi Suardi, kepala pos pengamatan Gunung api, Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel).

Beberapa hari sebelumnya, Andi Suardi menyebut, berdasarkan catatan Magma, Volcanic Activity Report (VAR), aktivitas kegempaan vulkanik dalam dan tremor terus menerus (micro tremor) dengan intensitas rendah.

Andi Suardi, kepala pos pengamatan gunungapi, Gunung Anak Krakatau memperlihatkan catatan rekaman kegempaan gunung Anak Krakatau – Foto: Henk Widi

Sejak Selasa tengah malam (19/2) berdasarkan periode pengamatan selama enam jam sekali aktivitas kegempaan terekam. Beberapa aktivitas kegempaan yang terekam di antaranya kegempaan hembusan berjumlah 1, amplitudo 8 mm, durasi 26 detik.

Kegempaan vulkanik dalam berjumlah 2, amplitudo 7-8 mm, S-P : 0.8-1 detik, durasi 5-6 detik. Rekaman kegempaan yang mulai tercatat berupa tektonik lokal berjumlah 1, amplitudo 14 mm, S-P : 3.6 detik, durasi 15 detik. Tektonik Jauh jumlah 2, amplitudo 2-3 mm, S-P : tidak terbaca, durasi 60-270 detik.

Aktivitas tersebut sedikit menurun sejak pukul 06.00 WIB pada Rabu (20/2) aktivitas kegempaan mulai berkurang.

Tercatat kegempaan yang terekam disebut Andi Suardi berupa kegempaan vulkanik dalam
berjumlah 2, amplitudo :6-7 mm, S-P 0.6-1.2 detik,durasi 7 detik. Kegempaan tektonik jauh berjumlah 1, amplitudo 12 mm, S-P 42 detik, durasi 140 detik.

Meski masih terekam kegempaan vulkanik, namun pada periode pengamatan pagi hari tersebut tidak terekam lagi kegempaan tektonik.

“Secara meteorologis kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau berada dalam kondisi cuaca cerah, berawan, dan mendung. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, dan barat daya, kondisi visual gunung terlihat dari pos pengamatan,” terang Andi Suardi, kepala pos pengamatan gunung Anak Krakatau di desa Hargo Pancuran, Rabu (20/2/2019).

Gunung berapi yang semula memiliki ketinggian 338 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan kini hanya mencapai 110 Mdpl tersebut memiliki suhu udara 25-29 °C, kelembaban udara 0-86 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Kondisi dari pos pengamatan Gunung Anak Krakatau, gunung terlihat samar di antara gugusan pulau Rakata, Sertung, Panjang, Sebesi dan Sebuku.

Kemunculan kegempaan tektonik yang terekam tersebut diakui Andi Suardi, merupakan aktivitas normal dari aktivitas gunung berapi. Meski gempa tektonik muncul di Gunung Anak Krakatau ia memastikan, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada level III atau tetap dinyatakan level siaga.

Kondisi tersebut diakuinya masih direkomendasikan bagi masyarakat serta wisatawan untuk tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

Saat ditanya terkait hubungan antara gempa tektonik yang terjadi di wilayah Selatan Malang, Blitar, Tulung Agung, Banyuwangi dan Bali hingga 27 kali dengan kekuatan beragam, ia menyebut, tidak bisa menyimpulkan kaitannya.

Meski demikian ia menyebut, peristiwa kegempaan kerap saling berhubungan menyesuaikan lempeng tektonik yang saling berhubungan. Meski demikian untuk aktivitas GAK yang disertai kegempaan vulkanik dan tektonik menjadi aktivitas normal gunung berapi.

Pascatsunami melanda wilayah pesisir Lampung Selatan pada 22 Desember 2018 silam, sejumlah warga pesisir mulai melakukan aktivitas di pantai. Tsunami yang disebabkan oleh erupsi dan longsoran di bagian gunung Anak Krakatau dan menyebabkan ketinggian gunung berkurang masih dikhawatirkan oleh warga pesisir.

Meski demikian, sejumlah masyarakat yang mengalami kerusakan rumah akibat terjangan tsunami mulai melakukan perbaikan. Sebagian tinggal di lokasi pengungsian desa Way Muli Induk dan desa Way Muli Timur.

Baca Juga
Lihat juga...