Harga Karet di Aceh Barat Naik

270
Karet, -Dok: CDN

MEULABOH – Harga tampung getah karet deresan petani (50 persen bersih) oleh agen pengumpul di Kabupaten Aceh Barat, naik. Harga yang biasanya hanya Rp7.000 per- kilogram (/kg), saat ini menjadi Rp7.300 /kg. Kenaikan terjadi karena permintaan yang terus meningkat.

Penderes karet di Desa Lhung Jawa, Kecamatan Woyla, Samsul, mengatakan, harga itu masih dihitung pembelian di tempat. Bila petani menjual langsung ke agen penampung desa, harga bisa mencapai Rp8.000 /kg. “Sebenarnya sudah beberapa bulan lalu terjadi kenaikan, kalau dulu walaupun harga Rp7.500 per kilogram, tapi permintaan biasa saja, sekarang ini permintaannya banyak. Para agen kesulitan juga dapat barang,” katanya, Minggu (3/2/2019).

Hanya saja, persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini adalah persoalan cuaca yang tidak menentu. Hal itu, menghambat aktivitas menderes di kebun. Karena hujan, setelah di deres antara empat hingga lima hari, getah karet baru bisa diangkut untuk dijual.

Pada pertengahan 2018, harga tampung getah karet petani di Aceh Barat sempat anjlok ke level terendah, seharga Rp4.000 /kg. Hal itu bukan karena faktor cuaca atau kurang permintaan, namun para agen lokal tidak bersedia membeli dengan harga tinggi.

Terhitung selama Januari hingga Februari 2019, harga tampung getah deresan petani mulai membaik, walaupun hanya naik Rp3.000 /kg. Namun, kenaikan tersebut sudah cukup membuat petani bersemangat untuk bekerja. “Kalau dibilang bersemangat, tidak juga, tapi kalau harga bisa naik terus tentu kebun-kebun yang sudah semak belukar akan kami bersihkan lagi. Selama ini kurang terurus, kami datang hanya untuk deres karet, setelah itu pulang,” keluhnya.

Sebelumnya, Pemkab Aceh Barat akan berupaya mengembangkan tanaman karet, sebagai sumber perekonomian masyarakat. Upaya yang dilakukan dengan peremajaan batang karet yang sudah tidak produktif. Bupati Aceh Barat, H Ramli, MS, menyampaikan, melalui program peremajaan karet, batang karet yang sudah tidak produktif ditebang dan dijual.

“Kita mendapat bantuan dari Belanda, akan ada 43 ribu hektare untuk peremajaan karet masyarakat yang sudah kadaluarsa, kayunya ditampung mereka, kemudian diolah untuk diekspor ke Jepang dan China,” sebutnya.

Investor asal Belanda bergerak dibidang pengolahan kayu karet mentah. Mereka akan memulai membangun pabrik kayu dengan nama perusahaan PT Woyla. Usaha tersebut masih dalam proses pengurusan izin dari pemda setempat. Pemkab Aceh Barat, juga telah melatih petani penderes karet, dengan metode yang lebih cangih dan dinamis. Pelatih didatangkan dari luar negari. Pelatihan digelar pada Mei 2018. Ada 20 petani dari Desa Pasie Aceh Tunong, Meureubo, yang mengikuti kegiatan tersebut.

Data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Aceh Barat, di 2017, ada 24.385 hektare kebun karet. Produksi rata-rata mencapai 40,6 ton per hektare per minggu. Namun, masih terdapat 9.000 hektare lahan yang sudah tidak produktif. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...