Harga Minyak Naik Didorong Harapan Keseimbangan Pasar

223
Ilustrasi pertambangan lepas pantai - Dokumentasi CDN

HOUSTON — Harga minyak naik lebih dari satu persen ke tingkat tertinggi tahun ini pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), didorong harapan bahwa pasar minyak akan seimbang tahun ini, dibantu oleh pengurangan produksi dari produsen-produsen utama serta sanksi-sanksi AS terhadap anggota OPEC Iran dan Venezuela.

Kekhawatiran pasar atas pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan China telah membantu menekan harga minyak lebih rendah pada awal perdagangan, tetapi pasar berbalik setelah tanda-tanda kemajuan muncul pada Rabu (20/2) dan memperkuat pasar ekuitas.

Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan China berjalan baik dan menyatakan dia terbuka untuk memperpanjang tenggat waktu guna menyelesaikannya melampaui 1 Maret, ketika tarif impor China senilai 200 miliar dolar AS dijadwalkan naik menjadi 25 persen dari 10 persen.

“Kami di pasar sedang menunggu berita utama berikutnya untuk mendorong kami lebih tinggi atau lebih rendah,” kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago, menambahkan pembicaraan perdagangan AS-China berada di antara masalah-masalah yang paling menjadi fokus para pelaku pasar.

Patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 63 sen AS atau 0,95 persen, menjadi menetap di 67,08 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret ditutup di 56,92 dolar AS per barel, naik 83 sen AS atau 1,48 persen, menjelang berakhirnya kontrak. Kontrak April yang lebih aktif diselesaikan pada 57,16 dolar AS per barel, naik 71 sen AS atau 1,38 persen.

“Pasar minggu ini telah didorong ke tertinggi tiga bulan di tengah ekspektasi pasokan yang ketat,” kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

OPEC dan Rusia memberlakukan pemotongan dan kekhawatiran tentang pengurangan ekspor Venezuela telah membantu mendorong pasar naik.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lainnya, termasuk Rusia – sebuah aliansi yang dikenal sebagai OPEC+ – sepakat untuk mengurangi pasokan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari tahun ini.

Sebuah komite pemantauan untuk OPEC dan sekutunya menemukan kepatuhan kelompok dengan perjanjiannya di 83 persen, empat delegasi mengatakan kepada Reuters pada Rabu (20/2).

Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih, mengatakan dia berharap pasar minyak akan seimbang pada April, dan tidak akan ada kesenjangan dalam pasokan karena sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

“Anda bisa menganggap itu sebagai sinyal bahwa Arab Saudi akan terus mengambil pendekatan proaktif,” kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.

Beberapa gangguan pasokan semakin memperketat persediaan. Perusahaan minyak negara Saudi, Aramco, pekan lalu menutup sebagian ladang minyak lepas pantai Safaniyah setelah kabel listrik terputus secara tidak sengaja. Produksi di ladang El Sharara yang diperebutkan Libya telah dihentikan sejak Desember.

Sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela juga telah membantu mengurangi ketersediaan minyak mentah di pasar global.

Namun, kenaikan harga minyak dibatasi karena gangguan pasokan itu diimbangi oleh ekspektasi peningkatan persediaan di Amerika Serikat setelah terjadi penurunan tajam dalam pemanfaatan kapasitas kilang di Midwest AS.

Persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah meningkat sebesar 3,1 juta barel pekan lalu, kenaikan mingguan kelima berturut-turut, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan.

Persediaan di Cushing, Oklahoma, pusat penyimpanan minyak utama AS, akan meningkat sebagian besar karena data AS menunjukkan pemanfaatan kapasitas kilang di Midwest turun menjadi 84,2 persen dari 92,9 persen minggu sebelumnya, menyusul serangkaian penghentian operasi yang direncanakan dan tidak direncanakan, kata para analis.

“Itu akan meninggalkan banyak barel minyak,” kata Robert Yawger, direktur berjangka energi pada Mizuho di New York.

Data persediaan mingguan AS tertunda satu hari karena libur Hari Presiden pada Senin (18/2). American Petroleum Institute (API) akan merilis datanya pada pukul 16.30 waktu setempat (21.30 GMT), sedangkan laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) akan dirilis pada Kamis pukul 11.00 waktu setempat.

EIA mengatakan pada Selasa (19/2) produksi serpih sendiri akan mencapai rekor 8,4 juta barel per hari bulan depan, menunjukkan sedikit peluang perlambatan jangka pendek dalam keseluruhan produksi minyak mentah AS.

BNP Paribas mengatakan melonjaknya produksi AS akan mendorong harga minyak lebih rendah menjelang akhir tahun, dengan Brent turun ke rata-rata 67 dolar AS pada kuartal keempat dan WTI ke rata-rata 61 dolar AS.

“Pertumbuhan produksi minyak AS, didorong oleh serpih, akan semakin meningkatkan ekspor dalam volume yang lebih besar ke pasar internasional, sementara ekonomi global diperkirakan akan menyaksikan sinkronisasi perlambatan dalam pertumbuhan,” kata bank. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...