Hari Peduli Sampah, Momentum Jauhi Plastik

Editor: Satmoko Budi Santoso

245

MAUMERE – Polres Sikka menggandeng Bank Sampah Flores menggelar apel di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Apel yang berlangsung di antara tumpukan sampah di Wairii, desa Kolisia, kecamatan Magepanda tersebut berlangsung sekitar 45 menit.

“Apel dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ini dilaksanakan di TPA agar peserta bisa melihat secara langsung kondisi sampah yang ada di sini,” sebut Kapolres Sikka, AKBP Rickson PM Situmorang, SIK, Kamis (21/2/2019).

Kapolres Sikka AKBP Rickson PM Situmorang, SIK dan direktur Bank Sampah Flores Wenefrida Efodia Susilowati. Foto: Ebed de Rosary

Dalam sambutannya saat apel, Rickson mengatakan, sampah plastik banyak sekali dan menumpuk. Apalagi sampah plastik yang lama sekali terurai sehingga harus mulai mengurangi penggunaan bahan plastik.

“Kalau kita ke restoran, kita bawa botol minuman sendiri. Kalau berbelanja, kita membawa kantung belanja sendiri. Dengan begitu, maka sampah plastik akan berkurang. Kalau semua orang mempraktikkan hal ini,” tuturnya.

Wenefrida Efodia Susilowati, direktur Bank Sampah Flores dalam kegiatan tersebut memberikan penjelasan, mengenai 5R 1A. Pertama Reduce mengurangi, Reuse menggunakan kembali, Recycle mendaur ulang, Refuse menolak, Responsibility bertanggung jawab dan Action.

“Hari ini kami berterima kasih kepada kapolres Sikka yang menggagas peringatan Hari Peduli Sampah Nasional agar masyarakat memiliki kesadaran. Ini penting agar tumbuh kepedulian terhadap sampah,” sebutnya.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 mengenai tempat pengolahan sampah dijelaskan, mengenai proses pengolahan. Seperti yang terlihat di TPA Wairii, jelas Susi, sistem pengolahan sampah masih secara tradisional dan hanya ditimbun saja.

“Sampah dikumpul, diangkut, dibuang, ditimbun dan dibakar. Padahal dalam undang-undang tersebut pengolahan sampah menggunakan metode 3 R, Reduce mengurangi, Reuse menggunakan kembali dan Recycle mendaur ulang,” ungkapnya.

Susi tegaskan yang paling utama adalah Action, sebab kalau menunggu pemerintah kapan permasalahan sampah bisa teratasi. Permasalahan sampah merupakan masalah bersama dan tanggung jawab bersama.

“Kita berharap, pengolahan sampah sesuai dengan amanat undang-undang tersebut bisa terlaksana di kabupaten Sikka. Sampah-sampah di TPA Wairii kebanyakan sampah plastik sehingga kita harus berkomitmen mengurangi,” harapnya.

Cara yang paling mudah, tandas Susi, ke mana-mana membawa tempat makan sendiri, botol minuman sendiri, serta tas belanja. Pengolahan sampah yang benar harus dimulai dari sumbernya.

“Yang paling mudah dan efektif mengurangi sampah yakni dengan membuat ekobrik. Plastik dimasukkan ke dalam botol plastik dan dipadatkan hingga bisa digunakan menjadi batu-bata. Filipina sudah bangun sekolah dari ekobrik dan di India juga sudah bangun rumah sakit,” pungkasnya.

Dalam apel yang dilaksanakan di TPA Wairii, hadir perwakilan dari para pelajar SMA di kota Maumere, TNI AL, TNI AD, Polisi, Brimob dan SAR. Hadir juga ibu-ibu Bhayangkari Polres Sikka, Jalasenastri Lanal Maumere, dan Persit Kartika Candra Kirana Kodim 1603 Sikka.

Sebelum dilaksanakan kegiatan, sebuah alat berat bekerja meratakan tumpukan sampah untuk dipergunakan sebagai lahan apel. Semua peserta dibagikan masker sebagai pelindung hidung dan mulut.

Baca Juga
Lihat juga...