‘HEBAT’ Indonesia, Jadi Langkah Awal Optimalisasi Perawatan Pre-Hospital

Editor: Makmun Hidayat

311

JAKARTA — Implementasi HEBAT (HeartBeat) Indonesia yang berfokus pada tatalaksana penanganan sindrom koroner akut dalam tahap pre-Hospital diharapkan mampu mencegah kematian pada pasien yang mengalami serangan.

Program ini akan dilakukan secara bertahap dimulai dengan studi formatif yang diperkirakan akan berlangsung selama 6 bulan dan akan berfokus pada responden di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.

Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penyakit jantung koroner yang termasuk di dalamnya sindrom koroner akut (SKA) merupakan penyebab kematian paling banyak setelah stroke dan hipertensi.

Jantung koroner termasuk dalam 10 besar penyakit tidak menular terbanyak pada tahun 2018 yakni sebanyak 3. 910 kasus. Oleh karenanya, diagnosis dini dan tatalaksana yang adekuat dipercaya dapat menurunkan mortalitas SKA.

Program HEBAT Indonesia ini merupakan program yang memilih pendekatan triple helix. Yaitu pendekatan yang menyatukan akademik, industri dan pemerintah untuk melakukan upaya sinergis dan berkolaborasi dengan asosiasi kesehatan guna mengoptimalkan penanganan pre-Hospital pada pasien SKA di Indonesia.

Ketua Center of Health Economics and Political Science (CHEPS) Prof. Budi Hidayat, SKM, MPPM, PhD menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk menyatukan para pemangku kepentingan terkait penanganan SKA pada tahap pre-Hospital di Indonesia.

“Kita mencoba untuk menarik semua stakeholder untuk menjadikan program ini menjadi kuat untuk melawan penyakit jantung yang menjadi silent Killer. Problematika utama yang saat ini ada adalah pre-Hospital,” kata Prof Budi usai acara Seminar SKA di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Prof. Budi menjelaskan bahwa dalam tahap awal program HEBAT Indonesia, akan dimulai dengan studi formatif, yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab penundaan tahap pre-Hospital pada pasien SKA di Indonesia.

“Misalnya seperti edukasi untuk meningkatkan kesadaran pasien investasi terhadap sarana penunjang dan praktek kerja di lapangan yang dibutuhkan untuk mempersingkat penundaan tahap pre-Hospital pada pasien SKA,” sebutnya.

Diharapkan studi ini dapat mendorong pengembangan strategi inovatif untuk mengurangi penundaan yang akan berpengaruh pada pengurangan angka kematian dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Studi formatif akan dilaksanakan kepada populasi pasien termasuk mereka yang mengalami nyeri dada akut yang kemudian didiagnosis sebagai SKA dan dirawat di unit gawat darurat. Data pasien akan dikumpulkan secara berurutan pada saat masuk keluar dan selama masa tidak lanjut. Proses pengambilan data akan dikumpulkan oleh enumerator terlatih dalam koordinasi dengan staf Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.

“Ini bukan hanya tentang edukasi dan promosi kesehatan saja. Tapi tentang sistem pendukung yang ada dan intervensi yang lebih jauh lagi. Karena kita berbicara waktu detik per detik jika berkaitan dengan penyakit jantung,” tegas Prof. Budi.

Contoh sistem yang diharapkan akan berkembang, misalnya jika terjadi serangan, maka yang terkait hanya tinggal menekan tombol yang terkoneksi dengan pengiriman mobil ambulance yang memiliki fasilitas penanganan SKA.

PT AstraZeneca Indonesia, yang merupakan mitra Kementerian Kesehatan dalam upaya menangani penyakit tidak menular di Indonesia menunjukkan komitmennya dengan menyokong studi yang dilakukan oleh CHEPS.

“Melalui program HEBAT Indonesia ini, harapannya akan terbangun ekosistem di bidang kesehatan untuk mengatasi kesenjangan dalam penatalaksanaan penyakit seperti SKA,” ujar Direktur PT. AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri.

Lihat juga...