Hindari Hoaks, Hindari Jeratan UU ITE

Editor: Satmoko Budi Santoso

445

PURBALINGGA – Mendekati pelaksanaan pemilu serentak 2019, kemunculan berita-berita hoaks semakin sering terjadi. Padahal ancaman hukuman atas pelanggaran Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) sudah sangat jelas dan banyak contoh yang sampai pada vonis penjara. Karena itu, disarankan untuk tidak memegang handphone (HP) saat kondisi sedang emosi.

Pernyataan tersebut disampaikan Lalang Pradistia Utama, pemateri dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Purbalingga dalam acara sosialisasi Undang-Undang ITE dan ciri berita hoaks di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Jumat (22/2/2019).

Menurutnya, HP merupakan salah satu media yang sangat berpotensi untuk menyebarkan berita hoaks, sehingga penggunaannya harus lebih berhati-hati.

ʺKalau kita sedang dalam kondisi marah, emosi tidak stabil, jangan memegang HP terlebih dahulu. Karena kita bisa membuat status-status di media sosial yang isinya tidak terkontrol, bisa menghina orang, merendahkan, melecehkan dan sejenisnya. Maka jauhi HP saat sedang emosi,ʺ terangnya.

Lebih lanjut Lalang menjelaskan, Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE secara gamblang menjelaskan bahwa mendistribusikan atau membuat berita hoaks yang menghina atau mencemarkan nama baik, diancam dengan pidana.

ʺDalam Pasal 27 ayat 3 UU ITE disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Ancaman dari pasal tersebut tidak main-main yaitu pidana penjara maksimal empat tahun dan denda maksimal Rp 750 juta,ʺ jelasnya.

Lalang menyebut, sudah banyak yang tersandung UU ITE, mulai dari orang biasa hingga pesohor sudah terjerat UU tersebut, karena sikap impulsif dari masyarakat yang cenderung cepat merespon segala sesuatu melalui status-status media sosial yang menyinggung orang lain.

Dia mengimbau, agar masyarakat lebih bisa menahan diri atas isu yang berkembang dan tidak menuliskan hal yang memancing percekcokan atau adu mulut melalui sosial media.

“Jejak digital itu tidak bisa dihapus, jadi berhati-hati, bersikap bijak dan lebih baik menahan diri untuk tidak membuat status yang memancing emosi,” tegas Lalang.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk cermat dan bisa membedakan berita hoaks dan berita yang benar. Masyarakat diajak untuk cek dan ricek atau tabayun tentang keabsahan sebuah berita dan jangan cepat-cepat ikut menyebarkan sebuah berita.

Mengingat, dalam UU ITE Pasal 28 disebutkan, apabila seseorang ikut menyebar berita bohong bisa dijerat hukuman pidana selama 6 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

“Berita hoaks biasanya cenderung provokatif, foto dan isi berita yang tidak sinkron, judul yang juga tidak sinkron dengan isi berita, serta sisi berita biasanya peristiwa yang didaur ulang,ʺ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...