Hutan Lorong, Kurangi Risiko Banjir

Editor: Satmoko Budi Santoso

260

JEMBER –  Warga Desa Curahlele, Kecamatan Balung, Jember, kini mulai galakkan gerakan penanaman lorong jalanan dengan tanaman kayu keras, misalnya tanaman kayu jaran.

Tidak hanya mulai menanami lorong jalan dengan tanaman kayu keras saja, warga Desa Curahlele juga memanfaatkan area lorong jalan dengan menanam tanaman cabai Jawa.

Gerakan penanaman lorong jalan dengan kayu keras dan cabai Jawa yang dibina oleh Kelompok Riset (KeRis) Tropical Natural Resources Conservation Universitas Jember ini, diharapkan dapat memberikan dua manfaat sekaligus bagi warga setempat.

Pertama, adanya kayu keras dapat mencegah bahaya banjir. Kedua, tanaman cabai Jawa memberikan pendapatan tambahan bagi warga.

“Selama ini, area lorong jalan belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal dapat diubah menjadi sumber daya alam yang potensial dan produktif dengan cara menanami tanaman tegakan seperti kayu jaran dan tanaman lilitan. Contohnya cabai Jawa di sepanjang lorong jalan,” jelas Hari Sulistiyowati, saat dihubungi di Gedung CDAST, Rabu (13/2/2019).

Hari Sulistiyowati di ruang kerjanya. Foto: Kusbandono.

Hari Sulistiyowati, dan dua koleganya Tri Ratnasari serta Arif Mohammad Siddiq, rutin memantau perkembangan hutan lorong di Desa Curah Lele.

Keberadaan pilot project hutan lorong ini diharapkan akan diikuti oleh warga lainnya di sekitar Desa Curah Lele. Jika tegakan tanaman keras mencegah banjir, hasil panen cabai Jawa juga bisa disetorkan kepada pembuat jamu tradisional.

Hari Sulistiyowati lantas menambahkan, keberadaan program hutan lorong adalah kelanjutan dari Program Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Universitas Jember 2017-2018 lalu. Jadi walaupun secara resmi program ICCTF telah berakhir masa kerjanya, namun Universitas Jember berkomitmen untuk tetap mendampingi warga, khususnya di sekitar Taman Nasional Meru Betiri melalui KeRis Tropical Natural Resources Conservation.

“Hutan lorong ini dalam jangka panjang diharapkan dapat memberikan solusi terhadap perbaikan kualitas ekosistem. Baik dalam hal serapan karbon yang ada di atmosfer, maupun serapan air dalam tanah, sehingga mengurangi risiko bencana banjir yang sudah menjadi ancaman tiap tahun di desa ini,” imbuh ahli valuasi lingkungan ini.

Hal yang tidak kalah penting dari hutan lorong ini, yaitu bahwa tanaman cabai Jawa atau cabai jamu yang ditanam juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar Desa Curahlele.

Lebih lanjut, Hari Sulistiyowati menyatakan, bahwa hutan lorong Desa Curahlele ini merupakan salah satu lokasi demonstrasi yang nantinya menjadi lokasi warga desa lain untuk belajar.

“Percontohan ini bisa menginspirasi untuk wilayah lain, sehingga program seperti ini bisa diaplikasikan di beberapa dusun atau desa lain di Jember. Perawatan serta perbanyakan tanaman cabai Jawa ini juga cukup mudah. Sehingga warga juga bisa membudidayakan tanaman ini sendiri,” katanya.

Diharapkan, hutan lorong ini menjadi salah satu bagian penting dalam mewujudkan program pemerintah terkait penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia.

Tidak hanya mendampingi warga Desa Curahlele menanam cabai Jawa, tim KeRis Tropical Natural Resources Conservation Universitas Jember juga menghubungkan petani dengan asosiasi petani cabai Jawa di Jember. Seperti yang diselenggarakan akhir tahun lalu.

“Kami menghadirkan Bapak Abu Dharin yang merupakan ketua para petani cabai Jawa di Jember. Beliau yang mengajarkan bagaimana menanam, merawat, memanen hingga memasarkan cabai Jawa. Jadi para petani cabai Jawa di Desa Curahlele tidak perlu khawatir, saat masa panen tiba. Sebab sudah ada yang akan membeli cabai Jawanya,” pungkas Hari Sulistiyowati.

Lihat juga...