Inovasi dan Peran Pemerintah Dibutuhkan di Industri Florikultura

Editor: Mahadeva

193

MALANG – Perdagangan antar negara yang terbuka lebar di era globalisasi, menyebabkan persaingan produk florikultura lokal dan impor semakin ketat. Indonesia dengan iklimnya yang mendukung, dan sumberdaya genetik flora yang melimpah, memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam industri florikultura.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Cipanas, Dr. Ir. Rudy Soehendi, MP, menyebut, dari data perkembangan produksi dan kebutuhan tanaman hias, sebenarnya Indonesia memiliki prospek yang sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat dari tren positif, pada peningkatan jumlah produksi, dan jumlah permintaan tanaman hias.

Menurutnya, peningkatan permintaan produk florikultura, tidak terlepas kepada kecenderungan masyarakat yang mulai tertarik dengan estetika. “Ada kecenderungan, masyarakat sekarang sudah lebih tertarik dengan estetika yang alami. Sehingga masyarakat yang dulu lebih tertarik dengan bunga plastik, sekarang justru cenderung lebih menyukai bunga hidup atau bunga riil,” ujarnya dalam seminar Forum Florikultura Indonesia ke 21, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB), Kamis (14/2/2019).

Hanya saja, saat ini tantangan yang muncul adalah, keberlanjutannya yang juga harus diimbangi dengan kualitas. Karena memang untuk meningkatkan kualitas, sangat diperlukan sebuah inovasi. “Saat ini, kita sudah menghasilkan inovasi, baik berupa varietas, maupun teknologi pendukungnya, mulai dari pengendalian hama penyakit, budidaya, termasuk di dalamnya ada pengairan maupun pemupukan,” terangnya.

Selanjutnya, diperlukan adanya jaringan kerjasama yang baik, antara pelaku usaha dengan pemerintah. Dalam hal ini, bisa dinas pertanian atau instansi terkait. Tujuannya adalah agar pemerataan produksi atau permintaan bisa terinformasikan secara merata.

“Seringkali di suatu daerah ada permintaan tanaman tertentu, tapi mereka tidak tahu kalau di daerah lain memproduksi tanaman tersebut. Sehingga diperlukan adanya saling bertukar informasi antar pelaku usaha florikultura,” sebutnya.

Saat ini, ekspor florikultura dari Indonesia sudah lebih banyak jumlahnya. Artinya, kualitas untuk tanaman tropis di Indonesia masih sangat diperlukan banyak negara. “Kita mampu bersaing, karena kita mempunyai yang dibutuhkan oleh negara lain. Misalnya, negara sub tropis yang menginginkan tanaman tropis, ya, mereka harus impor dari Indonesia,” jelasnya.

Tanaman hias yang kerap di ekspor diantaranya Dracena, bambu dan Krisan. Ada kualitas produk yang diekspor bisa lebih baik, perlu dipoles dengan inovasi. “Disini, lagi-lagi peran pemerintah sangat dibutuhkan. Jika kita ingin ekspor produk florikultura bisa bersaing secara global. Setidaknya pemerintah bisa memberikan kemudahan-kemudahan regulasi, termasuk kargo, dimana seharusnya di subsidi. Karena bagaimanapun juga biaya kargo juga menjadi hambatan bagi produsen,” ungkapnya.

Dekan Fakultas Pertanian UB, Dr. Ir. Damanhuri,M.S, menuturkan, meskipun sektor florikultura kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, sebenarnya industri florikultura merupakan usaha yang sudah mampu mandiri. Para pelaku usaha florikultura mempunyai daya juang yang tinggi, sebab mereka tahu bahwa keuntungan dari usaha florikultura sebenarnya sangat menggiurkan.  “Kita salut pada para pelaku industri florikultura, karena tanpa banyak campur tangan dari pemerintah, tanaman hias di Indonesia sudah berkembang sangat luar biasa,”pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...