Kadispora DIY: Tak Ada yang Salah dengan Pendidikan di Yogya

Editor: Satmoko Budi Santoso

235

YOGYAKARTA – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Baskara Aji, menolak anggapan bahwa ada sesuatu yang salah dalam proses pendidikan, khususnya di wilayah Yogyakarta selama ini.

Hal itu diungkapkannya menyikapi munculnya kasus video viral seorang siswa SMK Negeri 3 Yogyakarta yang melakukan tindakan tak pantas pada gurunya saat proses pembelajaran sedang berlangsung baru-baru ini.

“Tidak ada yang salah dengan proses pendidikan di Yogya. Yang salah adalah ketika menghadapi hal semacam itu, guru menjadi melakukan tindakan bullying. Itu baru salah. Kalau yang terjadi kan tidak,” ujarnya kepada Cendana News, Kamis (21/2/2019).

Baskara Aji sendiri mengaku, akan tetap meneruskan kebijakan atau sistem pendidikan yang ada selama ini. Yakni dengan mengedepankan proses pendidikan yang baik, dimana peraturan atau tata tertib ditegakkan dengan tegas, namun tanpa disertai perilaku kekerasan.

“Menurut saya teruskan pada pola yang sudah ada. Dengan mengedepankan proses pendidikan yang baik. Guru dan sekolah sudah bersikap cukup bagus. Mereka menegakkan peraturan tetapi tidak dengan kekerasan. Kebetulan saja ada anak dengan karakter yang tidak baik. Dan ternyata guru bisa menghadapi itu dengan baik. Jadi kita lanjutkan yang sudah dilakukan,” katanya.

Baskara Aji sendiri menolak anggapan yang menyebut, bahwa munculnya perilaku tak pantas siswa itu murni merupakan kesalahan pihak sekolah yang tak mampu mendidik sang anak. Pasalnya, menurutnya hal semacam itu sangat dipengaruhi oleh proses pendidikan si murid bersangkutan sejak awal di tingkat keluarga.

“Anak kalau melakukan seperti itu pasti tidak mendapatkan pendidikan yang baik sejak awal. Sekolah tidak bisa disalahkan begitu saja. Kan dia juga tidak naik tahun kemarin,” katanya.

Lebih lanjut, Baskara Aji mengakui, perlunya penguatan pendidikan karakter pada anak sejak dini. Yakni dimulai dari tingkat keluarga. Tak hanya itu kelanjutan pendidikan karakter dari tingkat keluarga ke sekolah juga harus dilakukan.

Yakni dngan menjalin komunikasi yang baik antara pihak keluarga dengan pihak sekolah agar mampu mengurangi dampak negatif dari sumber-sumber lain di tengah tantangan zaman seperti sekarang ini.

“Tidak bisa anak yang sudah usia sekolah SMA tiba-tiba dipaksa atau diharuskan tertib, kalau sejak awal memang sudah tidak terbiasa tertib. Karena itu sejak awal di keluarga harus sudah diajarkan. Termasuk di SD atau SMP, harus mulai dididik. Selain itu orang tua dan sekolah harus kerjasama. Apalagi tantangan sekarang ini semakin banyak. Ada medsos dan lain-lain. Yang itu berdampak negatif pada anak,” katanya.

Menurut Baskara Aji, sampai kapan pun kenakalan remaja akan selalu ada, sehingga tak bisa dihindari. Yang perlu dilakukan adalah menanamkan pemahaman pada sekolah maupun guru, agar tetap mampu bersabar dalam mendidik anak. Yakni melakukan tindakan tegas sesuai tata tertib yang ada, tanpa disertai tindakan negatif.

“Yang namanya kenakalan remaja tidak bisa kita hindari, pasti akan ada. Bersyukur guru bisa kendalikan dengan baik. Itu kan ciri pendidikan kita sudah baik,” ungkapnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, nama Yogyakarta sebagai kota pendidikan sedikit tercoreng setelah munculnya video di media sosial yang memperlihatkan perilaku tak pantas sejumlah murid kepada gurunya di ruang kelas saat pelajaran sedang berlangsung.

Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 24 detik itu, diperlihatkan seorang pelajar SMK Negeri di Jogja terlibat ‘pertikaian’ dengan gurunya.

Video itu banyak beredar di media sosial sejak Rabu kemarin. Belakangan diketahui video itu terjadi di SMK Negeri 3 Yogyakarta. Pihak sekolah sendiri telah membenarkan adanya peristiwa tersebut.

 

 

Baca Juga
Lihat juga...