Kalsel, Percontohan Kenaikan Harga Karet Nasional

441
Karet, ilustrasi -Dok: CDN

BANJARBARU – Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi satu dari tiga provinsi percontohan kenaikan harga karet nasional. Kegiatan tersebut dilakukan, melalui program yang digelontorkan pemerintah pusat.

Kepala Dinas Perkebunan dan Perternakan Kalsel, drh. Suparmi, mengatakan, upaya meningkatkan harga dan kualitas karet nasional, dilakukan pemerintah pusat dengan menunjuk tiga provinsi yaitu Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi.

Program percepatan peningkatan kualitas dan harga karet tersebut, dilakukan melalui intensifikasi dan penguatan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). “Intensifikasi diarahkan kepada perkebunan karet yang sudah menghasilkan dan sudah tergabung di UPPB,” jelasnya, Rabu (20/1/2019).

Intensifikasi tersebut diantaranya, bantuan pupuk, herbisida, fungisida, dan bantuan asam semut, yang selama ini membebani masyarakat. Upaya penguatan UPPB tersebut, tujuanya untuk meningkatkan mutu dan harga jual bokar, serta penguatan kelembagaannya. “Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor meminta kepada saya, untuk mengawal program tersebut, agar benar-benar berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

Menurutnya, Kalsel selama ini telah membentuk 109 UPPB. Dari jumlah tersebut, 46 UPPB telah bermitra dengan pabrik crumb rubber, sehingga mendapatkan harga lebih baik. Harga karet di tingkat petani masih cukup rendah, bila dibandingkan harga karet di UPPB.

Hal itu dikarenakan, masih banyak petani karet yang belum bermitra dengan pabrikan. Sementara, pengolahan bokar masih belum sesuai prosedur, seperti belum menggunakan pembeku yang dianjurkan. Keuntungan dengan bergabungnya petani karet di UPPB adalah, adanya selisih harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan petani karet yang menjual langsung ke pengepul.

“Selisih harga yang bisa didapat petani mencapai Rp3.000 hingga Rp4.000, untuk itu kami meminta para pekebun untuk bisa bermitra ke UPBB,” katanya.

Menurut Suparmi, selain intensifikasi, pemerintah juga akan melakukan peremajaan karet. Hal itu akan menyasar lahan seluas 1.600 hektare. Luasan peremajaan tersebut meningkat, jika dibandingkan kegiatan di 2018, yang hanya menyasar 680 hektare dan di 2017 menyasar 1.500 hektare.

Luas areal tanaman karet mencapai 270.345 hektare dengan produksi per tahun sebesar 197.699 ton karet kering. Pabrik pengolahan karet di Kalsel ada 12 unit, dengan kapasitas terpasang 274.900 ton per tahun, terdiri dari pabrik crumb rubber 10 unit dengan produksi SIR10 dan SIR20, serta pabrik RSS sebanyak dua unit. (Ant)

Lihat juga...