Kasus DB, Permintaan Trombosit di PMI Tulungagung Meningkat

257

TULUNGAGUNG — Permintaan trombosit di Unit Donor Darah PMI Tulungagung, Jawa Timur mengalami peningkatan hingga dua kali lipat dibanding biasanya, dampak lonjakan kasus demam berdarah (DB) di daerah itu selama dua bulan terakhir.

Menurut keterangan Kepala UDD PMI Tulungagung, dr Rukmi, selama kurun Januari saja volume permintaan trombosit mencapai 486 kantong.

Jumlah itu jauh di atas permintaan sejenis pada bulan-bulan sebelumnya saat DBD belum mewabah. “Ada lonjakan hingga dua kali lipat,” ujarnya Minggu (10/2/2019).

Rukmi lalu menunjukkan data permintaan trombosit selama lima bulan akhir September 2018.

Berturut mulai Agustus hingga Desember, jumlah permintaan sel darah merah atau trombosit sebanyak 301 kantong (Agustus), 303 kantong (September), 261 kantong (Oktober), November sebanyak 338 kantong (November) dan Desember sebanyak 347 kantong.

Hanya pada Oktober 2018 permintaan trombosit turun, namun setelah itu terus meningkat hingga puncaknya terjadi pada Januari 2019 yang mencapai 486 kantong. “Semoga bulan ini mulai turun,” ujar Rukmi.

Kendati begitu, Rukmi menegaskan UDD PMI Tulungagung terus menyiapkan sediaan trombosit untuk mengantisipasi tingginya permintaan darah bagi pasien DBD.

“Upaya yang kami lakukan yaitu selalu berhubungan dengan para pendonor darah. Mereka semua terhubung dengan media sosial. Setiap hari selalu dilaporkan keadaan persediaan darah di PMI pada para pendonor, sehingga kalau persediaan menipis para pendonor datang untuk mendonorkan darahnya dan kami langsung dapat memisahkan trombositnya,” paparnya.

Rukmi menuturkan, stok ketersediaan trombosit di PMI Tulungagung saat ini untuk golongan darah A sebanyak 12 kantong, golongan darah B sebanyak lima kantong, golongan darah 0 sebanyak empat kantong dan golongan darah AB sebanyak satu kantong.

Rukmi menyebutkan persediaan trombosit tidak sebanyak persediaan darah karena usia trombosit yang relatif lebih singkat, yakni hanya mampu bertahan lima hari.

“Lain dengan persediaan darah yang bisa bertahan sampai 36 hari. Kalau trombosit hanya bisa bertahan sampai lima hari. Karena itu, persediaan trombosit tidak terlalu banyak karena lebih lima hari sudah kedaluarsa dan harus dibuang,” tuturnya.

Rukmi mengatakan, selama ini warga yang membutuhkan trombosit di PMI Tulungagung selalu terlayani.

Bahkan tidak hanya warga asal Tulungagung yang datang meminta, tetapi juga dari kabupaten/kota sekitar, seperti dari Trenggalek dan Blitar. Dia menjelaskan trombosit tidak hanya diperlukan bagi penderita DBD saja, namun juga penyakit lainnya.

“Permintaan trombosit tidak melulu untuk pasien penyakit DBD tetapi juga bisa pasien penyakit lain seperti pasien penderita penyakit kanker. Jadi trombosit untuk berbagai penyakit, tidak hanya DBD,” katanya.

Jumlah penderita penyakit DBD di Tulungagung termasuk yang tertinggi di Jawa Timur.

Pada bulan Januari 2018 tercatat jumlah penderita DBD sebanyak 257 penderita dan tiga penderita di antaranya meninggal dunia. Jumlah penderita penyakit DBD di Tulungagung menempati ranking kedua setelah Kabupaten Kediri. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...