Kecerdikan Letkol Soeharto Mengelabui dan Bikin Kesal Tentara Belanda

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

2.090
Kadarwati, yang merupakan anak kandung Soedargo Utomo, Lurah Segoroyoso kala itu. Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA — Sebagai Komandan Pasukan Brigade X Wehrkreise III wilayah Yogyakarta, Letkol Soeharto memiliki peranan besar dalam memimpin pejuang selama masa perang kemerdekaan tahun 1948-1949. Sejumlah taktik dan strategi perang gerilya yang dilakukannya, kerap kali mengecoh dan mengelabui penjajah Belanda.

Selain membangun sejumlah posko-posko atau markas militer di sejumlah pelosok desa wilayah Yogyakarta, Pak Harto bersama pasukannya juga selalu berpindah-pindah lokasi untuk menghindari kejaran tentara Belanda. Sejumlah lokasi yang pernah menjadi markas pasukan Letkol Soeharto antara lain seperti dusun Segoroyoso, Bibis, hingga Sangonan Godean dan sejumlah lokasi lainnya.

Salah satu kecerdikan Pak Harto dalam mengelabui tentara Belanda adalah menyamarkan nama dusun lokasi markas para pejuang. Hal itu bahkan pernah membuat pasukan Belanda terkecoh meski telah mengetahui informasi lokasi persembunyian Letkol Soeharto dan pasukannya. Hingga akhirnya pihak Belanda kesal dan membakar rumah persembunyian tersebut.

Peristiwa itu sendiri terjadi di dusun Segoroyoso, Plered, Bantul. Antara rentang tahun 1948-1949. Dusun Segoroyoso memang pernah menjadi salah satu lokasi markas sekaligus persembunyian pasukan Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto. Di dusun inilah para pejuang menyusun strategi untuk melawan Belanda dengan membangun pos pertahanan, pos palang merah, gudang senjata hingga dapur umum di rumah-rumah penduduk.

Salah satu rumah yang digunakan sebagai markas para pejuang adalah milik pelopor atau Lurah Segoroyoso kala itu bernama Soedargo Utomo. Di rumah yang kini menjadi lokasi Monumen Perjuangan Segoroyoso inilah Pak Harto dan pasukannya pernah tinggal, selama kurang lebih beberapa bulan lamanya.

“Rumah ini pernah dibakar oleh Belanda. Dengan menuangkan bensin di salah satu tempat tidur. Sampai bangunan bagian belakang rumah habis. Saat pembakaran itu, saya ditarik bapak saya untuk sembunyi di dalam selokan,” ujar salah seorang pelaku sejarah Kadarwati, yang merupakan anak kandung Lurah Segoroyoso kala itu Soedargo Utomo.

Kadarwati yang kala itu mengaku sudah beranjak dewasa, menyebut pembakaran rumahnya itu dikarenakan kekesalan dan kemarahan pihak Belanda yang tidak menemukan keberadaan Pak Harto dan pasukan pejuang lainnya. Sebab sebelum kedatangan Belanda, para pasukan pejuang sebelumnya telah berpindah lokasi ke dusun Bibis, Kasihan, Bantul.

“Jadi dulu disini (dusun Segoroyoso) disebut juga Bibis. Karena tahunya Pak Harto dan pasukan ada di Bibis, maka Belanda menyerang kesini. Padahal disini sudah kosong, tidak ada pasukan sama sekali karena telah pindah ke Bibis, Kasihan. Warga juga sudah disuruh untuk sembunyi semua. Sehingga rumah itu lalu dibakar oleh Belanda,” katanya.
Soeharto
Rumah kediaman Lurah Segoroyoso, Soedargo Utomo yang pernah menjadi markas pasukan Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto. Foto: Jatmika H Kusmargana

Hingga saat ini, sebagian rumah lurah Soedargo Utomo di dusun Segoroyoso sendiri masih kokoh berdiri. Meski sejumlah bangunan asli telah hilang, namun beberapa bangunan seperti joglo dan limasan nampak tetap berdiri. Pihak keluarga dan ahli waris lah yang merenovasi rumah ini.

Kini rumah ini masih difungsikan sebagai tempat tinggal, dan menjadi kediaman salah seorang cucu Lurah Soedargo Utomo, yakni Brigjen Pol Bimo Anggoro Seno, yang tak lain adalah Wakapolda DIY.

Baca Juga
Lihat juga...