Kegempaan Vulkanik-Tektonik Dominasi Aktivitas GAK

Editor: Koko Triarko

247

LAMPUNG – Sejak Sabtu (22/2) dini hari, Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda didominasi oleh aktivitas kegempaan vulkanik dan tektonik. Kondisi tersebut dibenarkan petugas pos pengamatan gunungapi Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Pantauan alat perekam di sekitar GAK yang dilaporkan oleh Magma Volcanic Activity Report (VAR) kegempaan yang terekam berupa hembusan, vulkanik dalam, tremor menerus.

Suwarno mengungkapkan, kegempaan yang terjadi di antaranya hembusan berjumlah  3, amplitudo 3-11 mm, durasi : 25-42 detik. Vulkanik dalam berjumlah 14, amplitudo 7-17 mm, S-P : 0.5-2 detik,durasi  5-11 detik. Tremor menerus dengan amplitudo 1-11mm dominan 1mm.

Suwarno, petugas pos pengamatan gunungapi, Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi sejak pukul 00.00 hingga pukul 06.00 WIB, dan aktivitas kegempaan hembusan, vulkanik dalam mulai berkurang dengan aktivitas didominasi oleh tremor menerus (Microtremor), yang terekam dengan amplitudo 1-7 mm (dominan 1 mm).

Gunung berapi di Selat Sunda tersebut yang semula memiliki ketinggian 338 meter di atas permukaan laut (Mdpl), setelah erupsi dan menyebabkan tsunami pada 22 Desember 2018, berkurang menjadi 110 Mdpl.

Berdasarkan pantauan meteorologi, gunung tersebut terlihat dalam kondisi cuaca cerah, berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, dan barat daya. Suhu udara 25-38 °C, kelembaban udara 0-81 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

“Secara visual, gunung terlihat jelas hingga kabut 0-III, asap kawah nihil dengan kondisi gunung bisa terlihat dari pesisir pantai kecamatan Rajabasa, meski samar-samar,” terang Suwarno, saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (23/2/2019).

Aktivitas gunung Anak Krakatau yang fluktuatif, kata Suwarno, cukup stabil setelah gunung tersebut erupsi dan mengakibatkan tsunami di Selat Sunda.

Meski kondisi gunung terpantau normal, ia menyebut tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinyatakanLevel III atau berstatus Siaga.

Kondisi tersebut membuat masyarakat serta wisatawan direkomendasikan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 kilometer dari kawah.

Ia mengatakan, Meski aktivitas GAK tidak mengeluarkan material letusan, gunung api di Selat Sunda tersebut memiliki kawah berdiameter 400 meter dengan luas kawah 12 hektare.

Keberadaan kawah tersebut merupakan dampak dari erupsi dan amblasnya tubuh gunung yang mengarah ke Pulau Sertung. Aktivitas pelayaran melalui Selat Sunda, di antaranya kapal kapal kargo, kapal tol laut, kapal tongkang tetap melintas di Selat Sunda yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

Kondisi gunung anak Krakatau yang mulai normal tersebut, membuat sejumlah nelayan mulai melakukan aktivitas. Sejumlah nelayan yang melakukan aktivitas melaut, d iantaranya di pantai Kunjir, kecamatan Rajabasa dan pantai Minang Rua, kecamatan Bakauheni.

Sejumlah nelayan mulai melakukan aktivitas menangkap ikan dengan menggunakan kapal jenis ketinting, kapal bagan congkel dan  bagan apung.

Udin, salah satu nelayan di pesisir Bakauheni, menyebut sejumlah nelayan di wilayah tersebut mulai beraktivitas. Meski demikian, ia mengaku belum berani mendekat ke kawasan Gunung Anak Krakatau.

Selain menjadi kawasan yang dilarang untuk penangkapan ikan, nelayan memilih melakukan penangkapan ikan di pantai Timur Lampung Selatan untuk memperoleh tangkapan ikan.

Udin juga menyebut, sebagian nelayan yang kerap mencari ikan tidak jauh dari kawasan Gunung Anak Krakatau, juga memastikan kawasan tersebut mulai dijauhi oleh ikan.

Sebab, material vulkanik berupa sulfur serta zat zat kimia dari gunung api dengan warna orange yang mengalir dari kawah, membuat ikan bermigrasi ke wilayah lain.

Kawasan yang kerap menjadi lokasi migrasi ikan, di antaranya di wilayah Pulau Sangiang, pulau Kandang Balak, pulau kandang Lunik di Selat Sunda.

Lihat juga...