Kelompok Mancing Manual Maumere, Peduli Sosial dan Lingkungan

Editor: Satmoko Budi Santoso

362

MAUMERE – Ada yang berbeda dalam kegiatan bakti sosial membersihkan Kampung Buton dan sekitarnya yang diadakan Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) Jumat (8/2/2019) lalu, dimana tampak sekelompok orang yang menggunakan kaos lengan panjang bergambar ikan.

Puluhan anak muda ini memang sejak awal bersemangat ketika diajak turut serta berpartisipasi dalam bakti sosial. Membersihkan lingkungan dan sosialisasi mengenai demam berdarah, kebersihan lingkungan dan sampah di daerah yang menjadi markas atau tempat berkumpul komunitas ini.

“Sejak awal komunitas Mancing Manual Maumere kami libatkan, karena anak-anak muda ini selalu terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kegiatan positif lainnya,” sebut Tovik Koban, ketua panitia kegiatan memperingati Hari Pers Nasional tingkat kabupaten Sikka, Minggu (10/2/2019).

Dikatakan Tovik, dengan melibatkan komunitas ini, maka Aliansi Wartawan Sikka ingin agar kelompok ini bisa memberikan teladan dan contoh kepada masyarakat. Apalagi kelompok ini memiliki tempat berkumpul semacam sekretariat di Kampung Buton.

Muhammad Nasir, ketua Komunitas Mancing Manual Maumere kepada Cendana News menjelaskan, kelompok ini awalnya hanya beberapa orang saja. Tetapi karena banyak yang tertarik maka pihaknya mulai membentuk kelompok mancing yang dinamakan Mancing Manual Maumere.

“Kami mulai terbentuk awal tahun 2011 dan anggota saat ini berjumlah 22 orang. Anggota terdiri dari berbagai profesi yakni kontraktor, polisi, wartawan, pengacara, wiraswasta, PNS serta nelayan,” terangnya.

Nasir menyebutkan, meski tidak memiliki armada perahu motor, namun selama hari libur atau hari Sabtu kelompoknya selalu rutin melakukan kegiatan memancing.

“Sementara ini kami belum memiliki armada perahu motor sendiri dan hanya meminjam dari para nelayan di Kampung Buton. Biasanya mancing di hari libur atau hari Sabtu dan kembali hari Minggu,” jelasnya.

Paling jauh, sebut Nasir, kelompoknya memancing hingga ke wilayah pantai utara Flores Timur dan Ende. Spot mancing favorit dan banyak terdapat ikan pun sudah diketahui sehingga memudahkan kelompoknya melaut.

“Kami tetap konsisten menggunakan peralatan mancing tradisional menggunakan senar pancing biasa. Ikan yang didapat pun hanya untuk dikonsumsi sendiri dan tidak dijual sebab memancing hanya menyalurkan hobi saja,” ungkapnya.

Kalau mendapat ikan kecil dan ikan langka seperti Napeleon, pihaknya pasti akan melepas kembali ke laut. Kalau ikan-ikan kecil hampir setiap saat selalu didapat dan dilepas kembali atau ikan yang sedang bertelur. Sementara ikan langka sampai saat ini belum pernah ditangkap.

“Memancing menggunakan senar dan secara tradisional sensasinya lebih beda sehingga komunitas kami tetap fokus menggunakan peralataan tradisional saja. Ini sudah menjadi komitmen semua anggota,” jelasnya.

Komunitas ini dibentuk bukan semata-mata untuk mancing. Tetapi kata Nasir, pihaknya siap berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial lainnya. Juga dalam membantu masyarakat dan kegiatan positif lainnya.

Kelompok Mancing Manual Maumere saat mengangkut sampah dalam bakti sosial membersihkan lingkungan Kampung Buton yang diselenggarakan Aliansi Wartawan Sikka (AWAS). Foto: Ebed de Rosary

“Semua kegiatan sosial apa pun kami pasti terlibat. Kami siap berpartisipasi bila diundang untuk turut serta terlibat dan akan mengerahkan segala sumber daya yang kami miliki,” tegasnya.

Terkait Hari Pers Nasional, Kelompok Mancing Manual Maumere mengimbau agar pers semakin maju dan terus mengabarkan sesuatu yang bisa membuat kabupaten Sikka menjadi lebih maju dan lebih baik ke depan.

“Sepanjang pemantauan kami, jurnalis di kabupaten Sikka telah bekerja dengan sangat baik sesuai profesi yang ditekuni. Selain itu pers pun selalu melakukan kegiatan positif untuk mengedukasi masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...