Kemenkop Harapkan Pertanian Organik di Garut Jadi Percontohan

JAKARTA – Konsep pertanian organik modern terintegrasi yang dikembangkan oleh UKM Garut Green Farm didorong menjadi proyek percontohan dan direplikasikan oleh pelaku UKM yang lain.

Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM, Abdul Kadir Damanik, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu, mengatakan, konsep pertanian terintegrasi telah mengubah pendekatan cara bertani dari pola tradisional ke pola tepat guna.

“Konsep pertanian Garut Green Farm bisa dijadikan sebagai salah satu percontohan dalam membangun pertanian terintegrasi,” katanya. Ia melakukan kunjungan kerja ke industri pertanian UKM Garut Green Farm belum lama ini.

Abdul Kadir menilai, penerapan konsep pertanian terintegrasi akan membuat produk pertanian semakin kompetitif dari sisi kualitas dan jumlah, untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor yang  sangat besar.

Ia mengatakan, akan mengupayakan agar para pelaku UKM mulai menjalin kemitraan dengan pemangku kepentingan terkait untuk mengembangkan pertanian terintegrasi.

Pihaknya menganggap pola usaha pertanian terintegrasi yang dijalankan oleh pelaku UKM mampu mengoptimalkan hasil tanaman.

“Pola bisnis ini dinilai perlu diperkuat dengan kemitraan agar semakin berkembang,” katanya.

Garut Green Farm adalah konsep pertanian organik modern yang dikembangkan oleh pelaku UKM Ifan Donofan asal Garut, Jawa Barat.

UKM itu menjalankan bisnis pertaniannya secara rasional dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan “community development”.

Dalam pertanian terintegrasi berbasis “green house” ini, Ifan melakukan pendekatan mulai dari proses pembuatan bibit unggul, pupuk organik, penanaman, perawatan dan pengobatan. Bahkan, untuk mengoptimalkan proses penanaman di Garut Green Farm didirikan sebuah klinik pertanian.

“Dengan adanya klinik pertanian tersebut, maka berbagai penyakit yang menyerang tanaman mampu terdeteksi dan terobati,” kata Ifan.

Dalam membangun “community development”, Garut Green Farm menggunakan pendekatan skema syariah, yakni akad bagi hasil Mudharabah.

Terkait dengan jumlah nisbah bagi hasilnya, menyesuaikan dengan kesepakatan antara Garut Green Farm dan para petani.

Pola bisnis ini, kata Ifan, membuat 40 petani bergabung dalam pertanian terintegrasi yang memproduksi produk pertanian sayuran daun berupa pakcoy, lolorosa, letuce, endip, horenso, dan lain – lain.

Ifan mengajak lebih banyak lagi petani bergabung untuk memasok hasil-hasil pertanian di pasar domestik.

Dia mengakui, kebutuhan produk pertanian sangat besar dan diperlukan kemitraan dengan para petani untuk mengembangkan pertanian terintegrasi organik ini.

“Jangan sampai tanaman pangan organik hanya dikonsumsi masyarakat Eropa saja tapi juga masyarakat Indonesia,” kata Ifan. (Ant)

Lihat juga...