Kementan Sebut Ekspor Salak 2018 Tumbuh 28 Persen

188
Ilustrasi - Salak - Dok CDN

JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) gencar mendorong ekspor berbagai komoditas unggulan, seperti salak atau snack fruit yang tumbuh 28 persen menjadi 1.233 ton pada 2018.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi saat berkunjung ke salah satu sentra produksi salak yakni Kecamatan Tempel, Sleman, mengatakan salak menjadi buah yang tumbuh subur di Indonesia dan tidak dimiliki di negara lain dengan berbagai varietasnya yakni salak pondoh, nglumut, gula pasir, padang sidempuan dan sari intan 48.

“Ekspor salak untuk mengisi pasar di Asia dan beberapa negara lainnya. Dari data BPS, ekspor salak 2018 sebesar 1.233 ton naik 28 persen dibandingkan 2017 sebesar 965 ton,” kata Suwandi melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Suwandi menyebutkan negara tujuan ekspor salak yakni China, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Timor Leste, Belanda, Qatar, Hongkong, Jerman dan Inggris.

Luas lahan salak pada 2018 mencapai 23.204 hektare dengan produksi 983.000 ton tersebar di beberapa sentra, seperti Kabupaten Sleman, Magelang, Banjarnegara, Tapanuli Selatan dan Karangasem.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Edy Sri Harnanto mengatakan terdapat 2.300 hektare salak di Sleman melibatkan 11.500 rumah tangga petani.

Produksinya mencapai 10 kilogram per pohon per tahun yang jenisnya yakni terdapat salak pondoh super kualitas ekspor dan pondoh menggala untuk pasar domestik.

“Diharapkan ekspor salak Sleman tahun depan meningkat lagi seiring perawatan kebun dan sudah ada packaging house‘” kata Edy.

Haryanto, anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki Desa Mardikorejo, Kecamatan Tempel Sleman mengatakan satu kelompok tani di daerahnya mengelola 10 hektare salak dan pasar mengalami kendala. Bahkan, kelompok taninya bersama asosiasi sudah bermitra dengan eksportir yang ekspornya ke China dan Kamboja mencapai 200 hingga 400 ton per tahun.

“Harga di petani Rp7.500 sampai Rp8.000 per kilogram untuk grade-B, isi 14 sampai 16 butir per kg ini sudah kelas ekspor. Untuk grade-A isi 12 butir per kilogram lebih mahal lagi,” kata Haryanto. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...