Kepala Suku Komunitas Adat Nabe Melarang Masyarakat Tebang Bakau

Editor: Mahadeva

261

ENDE – Kepala suku atau Mosalaki komunitas adat Nabe, melarang masyarakat menebang bakau (Mangrove) di sepanjang pantai wilayah Desa Nabe. Larangan diberikan kepada masyarakat, yang tinggal di wilayah Desa Nabe dan sekitarnya, termasuk mereka yang tergabung dalam komunitas adat Nabe.

Simon Se, Mosalaki Sengaki atau kepala suku komunitas adat Nabe di desa Nabe kecamatan Maukaro kabupaten Ende.Foto : Ebed de Rosary

Larangan ini sejak dahulu diberlakukan, apalagi wilayah tersebut merupakan tanah hak ulayat suku, sehingga masyarakat dilarang untuk menebang bakau,” sebut Simon Se, Mosalaki Sengaki Nabe, Rabu (6/2/2019).

Simon menyebut, larangan tersebut dipatuhi semua masyarakat. Bila melanggar, akan dikenakan sanksi adat berupa denda. Lokasi di sepanjang pesisir pantai tersebut, berada di dalam kawasan teluk Rera Wete, yang selalu dilindungi dan dijaga. “Soal menebang pohon di pesisir pantai termasuk bakau secara tegas kami larang, sebab ini berkaitan dengan ritual adat yang selalu kami laksanakan setiap tahun sekali,” tuturnya.

Hutan bakau, juga menjadi tempat ikan bertelur, dan tempat berkembang biak ikan, sehingga harus dijaga. Pengambilan kayu, hanya diperbolehkan untuk ranting yang telah kering. “Apalagi di muara kali ada rumah adat, tempat dimana setiap tahun diadakan ritual adat, untuk memberi makan leluhur kami. Ini yang membuat tidak boleh menebang pohon dan bakau di pesisir pantai sejak dahulu,” ungkapnya.

Areal ritual, berada di dekat rumah adat, yang berupa dataran tinggi dan dulunya masih terdapat beberapa bakau. Kini di sekeliling areal rumah adat, telah tertutup rimbunan bakau. “Bakau penting dijaga dan tidak ditebang, sebab selain menjadi tempat bertelur ikan, juga dapat mencegah abrasi. Dengan begitu, masyarakat yang berdiam di pesisir pantai tidak terkena terjangan ombak saat badai, dan daratan pun tidak terkikis abrasi,” jelasnya.

Bona Beke, warga Desa Nabe, membenarkan adanya larangan tersebut. Bahkan menurutnya, menebang pohon di hutan juga dilarang. Masyarakat, oleh kepala suku telah diberi tanah untuk digarap. “Semua masyarakat diberikan lahan pertanian untuk digarap oleh kepala suku. Semua penggarap juga wajib mematuhi aturan yang diberikan, termasuk larangan membuka lahan di dalam hutan terkecuali lahan yang telah diberikan,” terangnya.

Peran kepala suku, apalagi Mosalaki Sengaki, sangat didengar dan ditaati oleh masyarakat di Desa Nabe, baik oleh penduduk asli, maupun pendatang. Peran mosalaki sebagai pengayom, masih sangat didengar dan ditakuti, karena mereka juga sebagai pemilik tanah ulayat.

Rumah adat komunitas adat Nabe di kecamatan Maukaro kabupaten Ende yang berada di dalam hutan bakau di pesisir pantai desa tersebut.Foto : Ebed de Rosary

“Semua masyarakat diberikan tanah untuk digarap, namun tidak untuk diperjualbelikan. Hasil panen-pun, setiap acara adat tahunan harus dibawa oleh setiap penggarap sesuai kesepakatan adat dan ini selalu ditaati,” terangnya.

Marselinus Meo, Warga Desa Khaberangga Tengah, kepada Cendana News menyebut, soal menebang pohon, apalagi bakau di pesisir pantai, sejak dulu dilarang oleh kepala suku. “Jangankan menebang bakau, menangkap ikan dengan menggunakan bom atau racun juga dilarang keras dan semua masyarakat mematuhi hal ini. Kami dari luar desa sering datang saat ritual penangkapan ikan di desa ini setiap tahunnya,” pungkasnya.

Lihat juga...