Ketegaran Rizki, Kehilangan Keluarga Saat Tsunami, Ingin Jadi Ustaz

Editor: Satmoko Budi Santoso

317

LAMPUNG – Luka-luka pada bagian kepala Muhamad Rizki Alfirdaus akibat tsunami Selat Sunda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018 mulai mengering.

Beberapa luka bekas jahitan masih terlihat pada bagian kepala saat Cendana News mengunjungi anak yang kini hidup sebagai yatim piatu tersebut.

Saat kejadian tsunami bocah berusia 7 tahun tersebut terkena reruntuhan rumah dan terpisah dengan ayah, ibu dan seorang kakak. Rizki, demikian ia disebut, harus hidup sebatang kara seusai tsunami melanda pesisir Rajabasa Lampung Selatan.

Saat tsunami melanda, ia bahkan kehilangan sang ayah bernama Ahmad Hayani (42), sang ibu Kismiati (34) serta sang kakak bernama Indah Ayu Lestari (17).

Ketiga anggota keluarganya tersebut meninggal saat tsunami melanda rumah yang ada di dusun Merak Kunjir. Ia bahkan diselamatkan oleh sejumlah kerabat ke salah satu lokasi pengungsian di desa Cugung saat tsunami melanda.

Sempat dilarikan ke rumah sakit akibat luka luka yang diderita, ia kembali pulih meski harus hidup sebatang kara.

Sang nenek bernama Junah (78) menyebut, harus kehilangan anak dan sang cucu. Sementara ia mengalami luka-luka. Kondisi serupa juga dialami oleh sejumlah keluarga lain yang hingga kini tinggal di tenda tepat di area SMAN 1 Rajabasa.

Kini Rizki dirawat oleh sang nenek bersama dengan Teteh (bibi) bernama Hetikus Parawati dan Suhaidi yang tinggal di dusun 1 RT 2 desa Kunjir dan menjalani hari-hari tanpa kedua orangtuanya.

Berbagai perhatian dan bantuan telah diterima oleh Rizki untuk kembali melanjutkan masa depannya. Rizki menyebut, masih mengingat semua anggota keluarganya. Meski demikian bocah yang duduk di kelas 2 SD Way Muli tersebut tetap tegar.

Ia mengaku selalu mendoakan sang ayah, ibu dan kakaknya agar bisa tenang di surga. Berbagai perhatian disebutnya diterima usai tsunami untuk kehidupan sehari-hari serta masa depannya.

“Saat ini saya tinggal bersama dengan teteh, pakde serta nenek karena sudah tidak memiliki rumah. Tetapi untuk sekolah saya diantar oleh pakde dan ditungguin oleh teteh sampai pulang sekolah,” terang Muhamad Rizki Alfirdaus, saat ditemui Cendana News di kediaman sang bibi di desa Kunjir, Sabtu (2/2/2019).

Rizki menyebut, sudah kembali bisa beraktivitas seperti biasa dan rasa sakit pada bagian kepala sudah sembuh. Salah satu bantuan yang diterima berupa sepeda diperoleh dari Amitee Luxembourg Indonesia (Alindo) sebuah komunitas pekerja Indonesia di negara Luxembourg.

Bantuan sepeda tersebut kelak akan dipergunakan untuk kegiatan sekolah, meski saat ini belum bisa digunakan karena ia masih diantar jemput saat pergi ke sekolah.

Rizki terlihat tegar dan mulai bermain bersama teman-teman sebaya di rumah sang bibi yang mengasuhnya.

Ia mengaku, bercita-cita menjadi seorang ustaz untuk mendoakan ayah, ibu dan sang kakak yang terlebih dahulu mendahuluinya dipanggil sang Pencipta. Ketegaran diperlihatkan bocah tersebut, ketika melihat sejumlah anggota keluarganya menjadi korban tsunami.

Meski selamat sejumlah anggota keluarga di antaranya nenek, bude (kakak ayahnya) juga mengalami luka-luka akibat tsunami dan sempat terpisah di pengungsian.

“Pengin jadi ustaz biar bisa mendoakan ayah, ibu dan kakak, semoga mereka tenang di surga,” terangnya.

Junah (78) sang nebek yang juga menjadi korban tsunami mengaku sedih harus kehilangan anak, menantu dan sang cucu. Wanita yang sempat tergulung ombak tsunami dan selamat tersebut mengaku, sempat dirawat di rumah sakit dan mendapat sejumlah jahitan pada bagian tangan dan kaki.

Ia menyebut, peristiwa tsunami masih menyisakan duka namun melihat sang cucu yang menjadi yatim piatu ia ingin terlihat tegar agar sang cucu bisa melupakan kisah kelam sebulan usai tsunami.

“Kalau perasaan duka masih sangat terasa. Tetapi kami ingin agar Rizki yang sudah yatim piatu bisa tegar dan menjalani kehidupan seperti anak-anak lain,” ungkap Junah berkaca-kaca.

Junah bahkan menyebut, meski menjadi korban tsunami ia memilih tinggal di salah satu rumah sang anak. Sementara sang anak bernama Jafar masih tinggal di tenda pengungsian hampir selama satu bulan lebih akibat kehilangan tempat tinggal.

Junah menyebut pasrah sembari menyerahkan nasib masa depan sang cucu kepada sang Khalik. Ia menyebut, kehilangan keluarga secara bersamaan menjadi peristiwa paling menyedihkan dalam hidupnya pada usianya yang sudah senja.

Kondisi dan perasaan yang sama dialami oleh Kholiyah (54) yang merupakan anak dari Junah. Saat tsunami melanda, Kholiyah harus mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan rumah dan sempat tidak bisa berjalan selama satu bulan.

Kholiyah, salah satu kerabat Rizqi yang menjadi korban tsunami masih menggunakan alat bantu untuk jalan – Foto: Henk Widi

Bantuan tongkat penopang menjadi bantuan bagi dirinya hingga bisa kembali berjalan. Sementara waktu, satu keluarga tersebut tinggal di rumah Hetikus Parawati dan Suhaidi yang atas kesepakatan keluarga akan menerima hak asuh atas Rizki sembari menunggu keputusan pengadilan.

Salah satu kerabat Rizki yang masih bertahan di tenda pengungsian bernama Jafar (55) mengaku belum memiliki tempat tinggal. Selama sebulan lebih ia menyebut masih tinggal di tenda area SMAN 1 Rajabasa yang rencananya akan dibuat hunian sementara (Huntara).

Sebagai pakde atau kakak tertua dari ayah Rizki yang sudah meninggal, Jafar menyebut, berharap sang keponakan selalu tegar menghadapi ujian hidup.

“Keluarga kami memang mendapat ujian cukup berat. Tiga keluarga meninggal, keponakan menjadi anak yatim piatu dan ibu serta adik saya luka-luka,” beber Jafar.

Jafar menyebut, berharap proses pembuatan hunian sementara bisa cepat dilakukan. Untuk tinggal bersama kerabatnya ia mengaku tidak bisa karena rumah kerabat sudah penuh oleh anggota keluarga lain yang kehilangan rumah.

Meski harus bertahan di tenda pengungsian ia mengaku, tetap ingin kembali membangun rumah di lokasi yang pernah ditempati. Namun akibat tidak memiliki biaya ia belum bisa membangun kembali rumah yang rusak.

Baca Juga
Lihat juga...