hut

Kisah Letkol Soeharto yang Gemar Mandi Bersama Pasukan

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Saat memimpin para pejuang selama masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948-1949, Pak Harto yang saat itu menjadi Komandan Wehrkreise III Yogyakarta, ternyata memiliki kebiasaan selalu mandi bersama-sama pasukannya.

Hal itu dilakukan Pak Harto sebagai salah satu sikap komandan yang merasa senasib sepenanggungan dengan anak-buahnya tanpa sedikit pun membeda-bedakan. Seperti saat Pak Harto dan pasukannya bermarkas di Dusun Sangonan, Sidorejo, Godean, Sleman, Yogyakarta.

Menempati rumah Jogoboyo dusun setempat, Joyo Prawiro, yang tak lain adalah kakek kecilnya, Pak Harto diceritakan lebih senang memilih mandi di belik atau mata air dekat sungai bersama para pasukan, dibanding mandi di sumur rumah tersebut.

“Saat berada di sini, Pak Harto itu kalau mandi ya di belik dekat sungai. Bersama pasukannya. Tidak mau mandi di rumah. Padahal di rumah ada sumur dan kamar mandi,” ujar Bardiyah Sosro Yuwono (87), anak dari Joyo Pawiro, sekaligus bibi kecil Pak Harto.

Bardiyah Sosro Yuwono (87), anak dari Joyo Pawiro, sekaligus bibi kecil Pak Harto. Foto: Jatmika H Kusmargana

Hingga kini, belik yang terletak dekat sungai Sangonan itu sendiri masih berfungsi baik dan digunakan untuk keperluan sehari-hari warga sekitar. Saat kemarau, belik yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumah Joyo Pawiro ini juga tetap mengalir dan tak mengering sedikit pun.

“Pak Harto itu orangnya sederhana, tidak banyak omong. Kalau di rumah tidur ya hanya pakai dipan kayu biasa,” imbuh Bardiah.

Saat masa Agresi Militer Belanda II itu sendiri, Bardiah mengaku, masih berumur 19 tahun. Bersama ibu dan saudara perempuan lainnya, setiap hari ia bertugas menyiapkan makan untuk para pasukan pejuang termasuk Pak Harto.

“Tugas saya saat itu ya membantu ibu memasak. Sayur-sayurannya ambil di kebun. Ada labu, pepaya, bayam, dan lain-lain. Lauknya ya hanya seadanya, seperti tempe atau kerupuk. Kalau masak itu pakai baskom,” kata Bardiyah, yang mengaku biasa dipanggil bulik oleh Pak Harto.

“Kadang sehabis melakukan penyerangan, Pak Harto kasih uang ke saya untuk beli lauk ayam, telur, dan lain-lain,” katanya.

Sikap rendah hati dan selalu dekat dengan rakyat juga ditunjukkan Pak Harto setelah perang kemerdekaan usai. Termasuk saat Pak Harto telah menjabat sebagai presiden. Beberapa kali Pak Harto dikatakan sempat datang ke Sangonan untuk menemui warga dusun yang dulu membantunya.

“Saat sudah jadi presiden, Pak Harto bersama Bu Tien juga ke sini. Ya ke rumah ayah saya yang dulu digunakan sembunyi itu. Sebagai bentuk terima kasih, Pak Harto juga membangun sejumlah masjid sebagai hadiah. Yakni Masjid Prawiro Setiko dan Masjid Soekiratin Muslimat,” ujar nenek 4 cicit itu.

Lihat juga...