Kraca, Menu Keong yang Diburu Warga Banyumas

Editor: Satmoko Budi Santoso

528

PURWOKERTO – Puluhan tahun kraca, makanan olahan keong sawah awalnya hanya menjadi hidangan saat berbuka puasa. Namun, saat ini kraca banyak dijumpai, meskipun bukan bulan Ramadan.

Makanan khas Banyumas ini pertama populer oleh hasil olahan Ibu Khamlani, warga Jalan Kauman Lama, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas.

Hasil masakan kracanya mempunyai cita rasa yang sedap dan tidak berbau anyir. Sebab, tidak semua orang bisa memasak keong dengan baik, karena bau anyir binatang melata ini sangat tajam.

ʺMemang cara memasaknya tidak mudah dan butuh waktu lama. Untuk menghilangkan bau anyir harus banyak menggunakan aneka rempah saat memasak,ʺ kata Bu Khamlani, Sabtu (9/2/2019).

Ibu Khamlani sedang memasak kraca di rumahnya, Jalan Kauman Lama, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. Foto: Hermiana E. Effendi

Kraca Bu Khamlani yang membuka warung kecil di rumahnya ini, sudah banyak dikenal masyarakat. Tak hanya dari Banyumas saja, tetapi beberapa pembeli langganannya ada yang dari luar kota.

Dalam satu hari Bu Khamlani memasak kraca hingga 50 kilogram. Awalnya, stok keong dicari sendiri di sawah. Tetapi saat ini dengan banyaknya produksi serta semakin sempitnya lahan sawah, ia membeli keong dari para pencari keong dan sudah punya langganan sendiri yang rutin mengirim keong ke rumah.

Saat bulan puasa, penjualan kraca meningkat dratis, bisa sampai 200 kilogram per hari. Hal tersebut karena banyak penjual takjil dadakan di pinggir-pinggir jalan yang membeli keong untuk dijual kembali. Selain itu, pembelian dari warga sekitar juga meningkat, karena kraca ini menjadi hidangan wajib bagi warga Banyumas saat berbuka puasa.

ʺKalau puasa meningkat penjualannya, banyak yang kulakan ke sini untuk dijual lagi, pesanan dari instansi atau luar kota juga banyak. Saya sampai menambah pegawai untuk membantu memasak,ʺ terangnya.

Cara memasak kraca terbilang sederhana. Awalnya keong dicuci hingga bersih dan biasanya keong mentah tersebut dicuci hingga tiga kali. Pencucian ini untuk menghilangkan lendir serta kotoran pada keong.

Sesudah bersih, keong dititiki atau dipecah sedikit bagian bawah lalu direndam semalam. Setelah itu baru diberi bumbu, mulai dari bawang merang, bawang putih, cabai, daun salam dan aneka rempah-rempah.

Untuk memasaknya sampai sekitar empat jam dan harus sering diaduk supaya bumbunya tercampur merata.

Harga kraca setelah masak ini cukup terjangkau hanya Rp 40 ribu per kilogram dan pembeli sudah bisa merasakan pedas, gurihnya kraca. Makanan ini bisa untuk camilan dan bisa pula untuk lauk makan.

Lihat juga...