Kunjungi Museum Soeharto, tak Lupakan Sejarah Bangsa

Editor: Satmoko Budi Santoso

426

YOGYAKARTA – Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam kelompok Gerakan Cinta Tanah Air (GCTA) menyerukan agar generasi muda tidak melupakan sejarah. Pasalnya sejarah merupakan pondasi utama untuk membangun sebuah bangsa dan negara di masa yang akan datang.

Hal itu disampaikan Koordinator GCTA, Santi Ambarwati, mewakili Ketua Umum, saat menggelar acara di Museum Memorial HM Soeharto, di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Bantul, Minggu (3/2/2019).

Puluhan angggota GCTA dari berbagai daerah datang ke Museum Memorial HM Soeharto untuk menggelar acara silaturahmi sekaligus napak tilas sejarah Pak Harto.

“Kita memilih museum ini sebagai tempat melangsungkan acara, karena kita ingin napak tilas. Mengingat sejarah. Bagaimana pun Pak Harto adalah bapak pembangunan Indonesia,” katanya.

Koordinator GCTA Santi Ambarwati – Foto: Jatmika H Kusmargana

Santi sendiri menilai, sosok Pak Harto merupakan sosok pemimpin yang tegas. Menurutnya, sikap ketegasan yang dimiliki oleh Pak Harto, dalam beberapa hal, sangat diperlukan untuk memimpin  bangsa besar seperti Indonesia.

Yakni dalam mengatasi berbagai persoalan secara cepat dan tepat agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.

“Pak Harto sosok yang sangat tegas. Dalam beberapa hal kita perlu sosok pemimpin seperti Pak Harto. Sehingga kalau ada persoalan bisa langsung diselesaikan dengan cepat. Saya yakin persoalan terorisme seperti sekarang tidak akan muncul karena sebelum tumbuh sudah dicegah,” katanya.

Gerakan Cinta Tanah Air sendiri merupakan gerakan yang dibentuk putra mantan wakil presiden era Soeharto, Sudarmono, yakni Tantyo Sudarmono.

Gerakan ini dibentuk untuk menyebarkan semangat rasa cinta tanah air pada seluruh elemen bangsa. Khususnya pada generasi muda agar lebih mencintai bangsa dan negara Indonesia.

“Gerakan kita ini mandiri dan netral. Tidak memihak pada pihak mana pun. Karena tujuan kami semata-mata adalah untuk membangun rasa nasionalisme, kebangsaan, dan kebersamaan. Agar Indonesia lebih baik. Yakni melalui gerakan sosial, kemanusiaan hingga ke gerakan kebudayaan,” katanya.

Sejumlah anggota GCTA – Foto: Jatmika H Kusmargana

Dibentuk sejak pascamasa reformasi, GCTA hingga saat ini memiliki sekitar 28 ribu anggota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah itu terdapat sekitar 8-10 ribu anggota yang aktif. Mereka terdiri dari berbagai kalangan usia maupun latar belakang.

“Kita juga memiliki tim satgas penyapu, yang bertugas memberantas hal-hal yang berpotensi memecah belah bangsa dan negara. Tim ini bersinergi dengan pihak Kepolisian, BNPT, dan sebagainya. Intinya bertugas membantu melakukan pengamanan di wilayah negara. Agar jangan sampai terpecah belah. Karena saat ini, sangat nyata bangsa kita sedang diadu domba,” imbuh Ketua GCTA DIY,  Amik Surahman.

Lihat juga...