Kurangi Risiko Bencana, Korrek Unej Gelar Simulasi

Editor: Satmoko Budi Santoso

290

JEMBER – Puluhan anak sekolah dan masyarakat berteriak histeris. Mereka berlarian berhamburan menuju titik aman di Balai Desa Pakis, Kecamatan Panti, untuk menyelamatkan diri dari bencana banjir bandang dan longsor yang sedang terjadi.

Suara sirine dan kentongan pun bersaut-sautan di tengah kegiatan belajar mengajar yang masih berlangsung untuk memberikan peringatan bahaya kepada para warga yang lain.

Satu persatu dari mereka dibimbing oleh Korps Relawan Kampus (Korrek) Universitas Jember (Unej) untuk menyelamatkan diri dan menenangkan diri di titik aman.

Ilustrasi di atas menjadi bagian dari simulasi Tanggap Darurat Bencana yang digelar di Balai Desa Pakis, Kecamatan Panti Jember, yang digelar oleh Korrek bekerjasama dengan mahasiswa KKN Tematik Tanggap Bencana Universitas Jember.

Kegiatan ini dilakukan agar anak-anak dan masyarakat memiliki pengetahuan mengenai situasi bencana dan upaya penyelamatan yang harus dilakukan.

Joko Mulyono, koordinator Korrek Universitas Jember mengatakan, Desa Pakis memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi. Posisinya yang berada di lereng Pegunungan Argopuro membuat Desa Pakis rentan dengan bencana longsor dan banjir bandang.

Joko Mulyono saat memberikan pengarahan materi kesiapan bencana. Foto: Kusbandono.

“Tahun 2006 lalu Kecamatan Panti sempat luluh lantak diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Masyarakat dalam kondisi tidak siap. Sungguh sangat memilukan kondisi waktu itu. Karena tidak hanya korban harta, korban jiwa pun tak terhitung lagi. Kami tidak ingin hal itu terjadi lagi,” ujar Joko kepada Cendana News, (1/2/2019).

Menurut Joko, walaupun masyarakat tidak bisa mencegah terjadinya bencana. namun masih bisa mengurangi risiko yang diakibatkan oleh bencana itu. Oleh karena itu, Joko mengatakan, pendidikan tanggap bencana bagi masyarakat sangat penting untuk diberikan.

“Agar saat bencana terjadi mereka tahu betul apa yang harus dilakukan. Sehingga korban jiwa bisa diminimalisir. Semakin dini pendidikan itu diberikan, maka semakin bagus. Oleh karena itu, salah satu target sasaran simulasi bencana kali ini adalah siswa SD yang ada di Desa Pakis,” ungkap Joko.

Sementara itu, Jumadi, Kepala Desa Pakis, membenarkan yang disampaikan oleh Joko Mulyono. Kejadian bencana banjir bandang dan tanah longsor pada tahun 2006 silam menimbulkan rasa trauma yang mendalam di benak masyarakat.

“Tingkat kewaspadaan masyarakat saat ini sangat serius sekali. Semua masyarakat sudah bersiaga sehingga manakala terjadi bencana alam bisa langsung terkondisikan dengan baik. Bencana itu terjadi seketika, kami tidak ingin kejadian tahun 2006 terulang, dimana ada 8 rumah ditelan longsor,” kenang Jumadi.

Menurut Jumadi, beruntung kala itu jembatan yang ada di batas desa jebol sehingga tidak banyak yang menjadi korban.

“Mungkin jika jembatannya tidak jebol, air akan semakin meluap ke rumah-rumah warga, dan pastinya akan semakin menambah korban jiwa waktu itu,” lanjut Jumadi.

Jumadi menjelaskan, masyarakat Desa Pakis banyak yang mendiami wilayah dengan topografi bukit atau lereng pegunungan Argopuro. Bahkan menurutnya, di beberapa wilayah, posisi rumah warga tepat berada di bawah lereng.

“Posisi sungai yang sangat dangkal dan sempit menambah kewaspadaan masyarakat Desa Pakis. Oleh karena itu, kami selalu berkoordinasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Manakala terjadi hujan deras di hulu sungai seperti beberapa hari terakhir agar segera memberikan informasi melalui berbagai media,” pungkas Jumadi.

Lihat juga...