Lebih 850 Hektare Lahan Gambut di Riau Terbakar

263
Karhutla, ilustrasi - Dok:.CDN

PEKANBARU – Badan Restorasi Gambut (BRG) menyatakan, kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) yang melanda Provinsi Riau sepanjang awal 2019 ini terjadi di areal yang jauh dari pemukiman dan perkebunan masyarakat.

“Yang terbakar areal gambut belum dibasahi. Jauh dari pemukiman,” kata Kepala BRG, Nazir Foead, di Pekanbaru, Sabtu (23/2/2019).

Dia mengatakan, program pemulihan gambut yang dilakukan BRG sejak 2016 di Provinsi Riau, selalu melibatkan pemerintah setempat dan masyarakat. Sementara dalam program restorasi tersebut, masyarakat kerap memilih lokasi pembasahan gambut dekat dengan pemukiman dan perkebunan.

Sebagai contoh, katanya, dari hamparan areal gambut rusak di sebuah desa dengan luas mencapai 10.000 hektare, BRG dan mitra dengan keterbatasannya hanya mampu membasahi gambut seluas 2.500 hektare.

Maka, BRG bersama masyarakat dan pemerintah memutuskan areal gambut yang menjadi prioritas pembasahan. “Umumnya masyarakat memilih areal gambut dengan pemukiman dan kebun mereka. Sehingga kalau ada api, pemukiman, sekolah dan kebun mereka aman,” ujarnya.

Sementara itu, areal yang belum masuk dalam intervensi BRG, terutama jauh dari areal pemukiman dan perkebunan masyarakat, masih menjadi pekerjaan rumah karena masih terbakar pada awal 2019 ini.

Nazir mengatakan, bahwa sebagian daratan Riau merupakan areal gambut. Data yang dikeluarkan Universitas Riau tercatat luas lahan gambut Riau mencapai 4,8 juta hektare, atau 51,06 persen dari total luas Riau.

Sementara itu, dari total luas lahan gambut di Provinsi Riau tersebut, Nazir mengatakan sebagian di antaranya mengalami kerusakan, mulai tingkat sedang hingga kerusakan parah.

“Setengah lebih dari Riau itu berupa gambut. Pembukaan lahan gambut dimulai puluhan tahun lalu, jadi kerusakan sangat parah. Sehingga membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memulihkan kondisinya,” tuturnya.

Sepanjang 2019 ini, lebih dari 850 hektare lahan terbakar di Provinsi Riau. Kebakaran terluas terjadi di Kabupaten Bengkalis. Hingga hari ini, upaya penanggulangan masih terus dilakukan, tepatnya di Pulau Rupat, Bengkalis. (Ant)

Lihat juga...