Lempar Batu ke Laut, Tradisi Imlek yang Kini Hilang

Editor: Koko Triarko

258
Tokoh masyarakat Tionghoa di Padang, Hendri Alizar/ Foto: M. Noli Hendra 

PADANG – Ada salah satu tradisi yang hilang dimakan zaman bagi etnis Tionghoa pada momen perayaan tahun baru Imlek. Tradisi itu dikenal dengan lempar batu ke laut, yang memiliki makna mencari jodoh. Begitu juga bagi etnis Tionghoa di Sumatra Barat, yang jumlahnya mencapai sekitar 30.000 orang itu, tradisi lempar batu ke laut hampir tidak terlihat pada setiap Imlek.

Menurut tokoh masyarakat Tionghoa di Padang, Hendri Alizar, hampir 10 tahun ini tradisi itu tidak dilakukan. “Alasannya, beda generasi beda pula pemahamannya, dan hingga akhirnya tradisi itu mulai ditinggalkan. Padahal, makna dari tradisi lempar batu ke laut itu, untuk mengharapkan jodoh. Jadi, buat para jomblo, bagus juga untuk melakukan tradisi itu,” katanya, Selasa (5/2/2019).

Hendri menjelaskan, lempar batu ke laut memiliki makna menemukan jodoh, karena dalam keyakinan Tionghoa, bila ada seorang pria melempar batu ke laut itu, bertemu dengan batu yang dilempar oleh seorang wanita, maka kelak antara dua orang tersebut akan berjodoh.

“Jadi, batu siapa yang bertemu dengan batu siapa tentu tidak bisa diketahui, karena berada di dalam air. Intinya, terpulang ke Tuhan juga, tapi setidaknya ada doa yang ucapkan sebelum batunya di lempar ke laut,” ujarnya.

Bahkan, sambungnya, ada yang berdoa melempar kesialan ke laut, maka doa yang disampaikan berbeda pula.

Menurutnya, pada perayaan Imlek memang banyak tradisi yang bisa dilakukan oleh etnis Tionghoa. Namun sering waktu berjalan, ada beberapa tradisi yang tidak lagi dilakukan.

“Saya tidak tahu, apakah ada anak muda yang diam-diam melakukan tradisi lempar batu. Tapi yang jelas, yang dilakukan secara bersama dan terang-terangan itu tidak lagi terlihat. Setidaknya, 10 tahun sudah hilangnya tradisi lempar batu ke laut,” jelasnya.

Hendri mengaku, hilangnya tradisi itu bukan berarti merupakan pertanda bagi masa depan etnis Tionghoa. Karena yang namanya tradisi, ada kalanya hilang dan sesuai kondisi generasi yang menjalaninya.

“Begitu juga pada saat 10 tahun yang lalu, generasi ketika itu masih menjalankan tradisi lempar batu ke laut. Karena mungkin saja banyak orang ketika itu sulit menemukan jodoh,” katanya.

Sekretaris Perhimpunan Keluarga Tjoa Kwa, Petrus Hendra, menjelaskan, lahirnya tradisi lempar batu ke laut itu belajar dari alam. Karena etnis Tionghoa menyakini, alam menunjukkan banyak tanda-tanda hidup yang bisa menjadi pedoman.

“Jadi, kita itu belajar dari alam, begitu juga dengan tradisi lempar batu ke laut. Sama-sama kita ketahui, bahwa sifat laut menelan semua yang ada. Jadi, makna sifat laut itu, jika melakukan membuang hal ke laut, baik hal buruk yang dibuang, maka akan ditelan oleh laut,” sebutnya.

Sama halnya dengan makna menyakini membuang sial bagi hidup sebelumnya, maka dengan adanya lempar batu ke laut itu, maka kemalangan di telan laut, dan datanglah kemujuran untuk masa yang akan datang.

“Tapi, batu yang dilempar cukup satu saja, dan sampaikanlah niat atau doanya dari batu yang hendak dilempar itu,” ucapnya.

Tetapi sangat disayangkan, tradisi melempar batu ke laut di Padang, hanya dijalankan pada 1970 hingga 1980-an.

Baca Juga
Lihat juga...