hut

Lilin Tradisional Mulai Banyak Dibuat di Larantuka

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Menjelang Paskah, pembuatan lilin tradisional, yang biasa dipergunakan para peziarah saat perarakan atau prosesi Jumat Agung mengelilingi kota Larantuka, mulai ramai dibuat masyarakat.

Katharina D.Fernandez salah seorang warga kelurahan Lokea kota Larantuka yang membuat lilin tradisional.Foto : Ebed de Rosary

“Biasanya sejak selesai Natal di akhir bulan Desember perajin sudah mulai membuat lilin untuk stok dan dijual menjelang Paskah,” sebut Katharina D. Fernandez, salah seorang pembuat lilin tradisional, Selasa (12/2/2019).

Dikatakan Rina, sapaannya, selain menyediakan stok, biasanya lilin yang sisa tahun sebelumnya juga masih ada. Pembuatan harus dilakukan sejak awal, sebab bahan baku yang dipergunakan merupakan lilin bekas.

“Bahan bakunya kami ambil dari sisa-sisa atau cairan lilin bekas yang dipilih setiap hari di kuburan di kota Larantuka. Setelah terkumpul banyak, baru dimasak di wajan hingga mencair,” jelasnya.

Untuk sumbu lilin sebut Rina, dibeli di toko lalu digunting dan dibuat dengan panjang sesuai ukuran. Sumbunya digantung di kayu lalu cairan lilin dituang ke atas sumbu hingga berbentuk bulat sesuai ukuran.

“Biasanya satu lilin diameternya sekitar 10 sentimeter bahkan ada yang lebih besar. Panjang lilinnya pun dari 30 hingga 40 sentimeter, sesuai dengan pesanan atau selera pembeli,” tuturnya.

Lilin-lilin tradisional tersebut biasa dijual dengan harga Rp15 ribu sampai Rp20 ribu rupiah satu batang. Saat menjelang Paskah, ucap Rina, penjual biasa membeli dari pembuat lilin seharga Rp50 ribu untuk 4 batang lilin dan nanti dijual lagi seharga Rp 20 ribu per batang.

Simon Se, salah seorang warga kelurahan Lokea kota Larantuka mengaku pihaknya hanya iseng membuat lilin untuk dijual saat perayaan Paskah. Biasanya banyak peziarah dari luar daerah yang membelinya untuk dipergunakan saat prosesi.

“Kami membuat dan menyimpannya di rumah untuk stok. Kadang saat menjelang Paskah beberapa penjual datang membeli untuk dijual kembali. Kami hanya iseng-iseng saja mengisi waktu luang dengan membuat lilin tradisional,” jelasnya.

Bahan untuk membuat lilin sebut Simon, diperoleh dari saudara di kota Maumere yang dikumpulkan dari lilin-lilin sisa yang dibakar di kuburan umum. Juga di gereja dan juga kuburan di kota Larantuka.

“Tahun lalu kami menjual seharga Rp50 ribu rupiah untuk 4 batang lilin sepanjang 35 sentimeter. Hampir setiap tahun banyak yang memesannya,” tuturnya.

Dalam setahun para pembuat lilin bisa mendapat keuntungan Rp5 juta sampai Rp10 juta dari hasil membuat lilin. Bila peziarah membludak mencapai angka 20 sampai 30 ribu orang maka kebutuhan lilin tradisional tersebut pun meningkat.

“Setiap orang yang mengikuti prosesi saat Jumat Agung pasti membawa lilin. Ini yang menyebabkan lilin tradisional selalu dibeli. Selain itu harga lilin tradisonal jauh lebih murah dibandingkan membeli lilin produksi pabrik,” pungkasnya.

Disaksikan Cendana News, lilin tradisional yang terdapat di rumah Simon Se, salah seorang pembuat lilin berjumlah ratusan dan digantung di besi-besi yang diletakan di belakang dapur.

Sementara sumbu-sumbu lilin lainnya sedang disiapakan dan digantung sambil menunggu stok lilin bekas tersedia baru dimasak di wajan dan dituangkan ke sumbu-sumbu yang ada untuk menjadi lilin.

Lihat juga...