Luapan Way Pisang Masih Genangi Lahan Pertanian

Editor: Koko Triarko

199

LAMPUNG – Sepekan pascajebolnya tanggul penangkis Way Pisang, yang merendam lahan pertanian milik warga Desa Sukaraja, menyebabkan ratusana tanaman mentium yang baru berusia dua pekan, membusuk.

Suwigno, petani penanam mentimun di dekat tanggul penangkis menyebut ratusan batang mentimun usia dua pekan miliknya, rusak. Hal ini karena guludan terendam air beserta material lumpur. Imbasnya, sejumlah tanaman mentimun membusuk sehingga harus dilakukan penanaman ulang.

Suwigno memperkirakan kerugian akibat bencana tersebut, mencapai lebih dari Rp8 juta. Kerugian berupa mulsa plastik yang rusak akibat terendam air, benih tanaman yang harus diganti serta biaya operasional.

Suwigno, salah satu petani mentimun di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. yang mengalami kerugian akibat banjir luapan sungai Way Pisang sepekan sebelumnya sebagian tanaman mulai membusuk -Foto: Henk Widi

Benih mentimun pada penanaman sebanyak ratusan guludan dan lanjaran bambu, menghabiskan tiga paket. Satu paket benih mentimun dibeli dengan harga Rp350.000, mulsa sebesar Rp3 juta serta biaya pengolahan sekitar Rp1 juta.

“Beberapa tanaman yang terendam masih bisa diselamatkan, karena genangan air luapan Way Pisang bisa dibuang, tetapi bibit tanaman yang terendam air serta lumpur mulai membusuk, sehingga harus diganti,” beber Suwigno, Sabtu (23/2/2019).

Meski luapan Way Pisang sudah surut, kata Suwigno, petani masih kuatir. Pasalnya, tanggul penangkis yang jebol belum diperbaiki. Proses penyulaman serta penggantian tanaman mentimun baru menunggu genangan air surut.

Sebab, genangan air membuat guludan menjadi becek dan lembab, berimbas perakaran tanaman mentimun, busuk. Sejumlah tanaman mentimun masih bisa diselamatkan dengan cara menyemprot menggunakan air bersih dari lumpur yang menempel pada tanaman.

Upaya membuang air dari lahan tanaman mentimun miliknya dilakukan dengan menggunakan pompa air. Meski harus mengeluarkan biaya ekstra untuk penanganan pascabanjir, menanam sayuran tetap akan dilakukan.

Selain menanam mentimun untuk lalapan, ia juga menanam mentimun suri yang diprediksi akan dipanen pada Mei mendatang saat bulan puasa atau bulan Ramadan.

“Banyak petani yang memilih untuk menanam komoditas sayuran dan buah untuk kebutuhan Ramadan, tetapi karena tanggul jebol harus dilakukan penanaman ulang,” terang Suwigno.

Kerusakan lahan pertanian, sebut Suwigno, bisa diminimalisir jika tanggul Way Pisang diperbaiki dan dibuat bronjong. Pembuatan tanggul penangkis yang sudah jebol dalam kurun waktu satu tahun terakhir, kurang kuat.

Imbasnya, saat banjir sebagian lahan pertanian yang berada di dekat bantaran Way Pisang kerap tergenang air luapan sungai terpanjang di Lampung Selatan tersebut.

Suyoko, petani di dekat Lebung Larangan, menyebut dalam kurun waktu empat bulan, lahan sawah miliknya sudah terendam dua kali. Pada November 2018, lahan pertanian di wilayah tersebut lahan jelang panen terendam luapan Way Pisang.

Padi varietas Muncul Cilamaya terendam air Way Pisang sepekan sebelum dipanen. Pada Februari, banjir luapan Way Pisang merusak lahan pertanian sawah miliknya yang berusia sekitar satu pekan.

“Selain luapan Way Pisang, keberadaan lebung Larangan membuat air yang menggenang areal persawahan lama surut” beber Suyoko.

Lebung Larangan berupa aliran air yang kerap dimanfaatkan sebagai pasokan irigasi lahan sawah di wilayah tersebut, sebagian masih belum surut.

Sejulmah tanaman di sawah yang tergenang air, bahkan mulai membusuk. Air luapan lebung larangan, sebut Suyoko, masih sulit dibuang karena posisi sawah lebih rendah dibandingkan area persawahan.

Sebagian lahan sawah  yang terendam dengan benih padi membusuk mulai disiapkan benih cadangan untuk ditanam ulang.

Suyoko menyebut, kondisi aliran lebung larangan sudah kerap diusulkan ke pihak terkait untuk dibuat tanggul. Pembuatan tanggul pada lebung larangan disebutnya sangat vital untuk menghindari luapan air saat musim penghujan.

Sejumlah petani di wilayah tersebut, bahkan membuat tanggul sementara dari karung berisi tanah. Masa tanam pertama (MT1) pada musim penghujan atau rendengan, membuat petani telah mengantisipasi kerusakan tanaman akibat banjir.

Sejumlah petani bahkan menyiapkan benih lebih banyak sebagai cadangan untuk penanaman ulang.

Baca Juga
Lihat juga...