Mahfud MD: Indonesia Jaya pada 2045

Editor: Satmoko Budi Santoso

538

PURWOKERTO – Dilandasi rasa keprihatinan atas kemungkinan perpecahan yang mengancam negeri ini, Mahfud MD melalui Gerakan Suluh Kebangsaan, berkeliling menjelajah Nusantara untuk menggelar dialog kebangsaan.

Dalam dialog yang dilaksanakan di Stasiun Purwoketo, Selasa (19/2/2019), Mahfud MD mengajak masyarakat untuk menjaga nalar sehat dan berbudi, demi menuju Indonesia emas di tahun 2045.

Dalam paparannya Mahfud menyampaikan, negara ini didirikan dengan perdebatan yang luar biasa. Pada saat itu, Soekarno menolak keras dibentuk negara agama.

Perdebatan berlangsung dan Soekarno tetap kukuh pada pendiriannya, bahwa dimana-mana, negara agama akan rusak. Sebaliknya, negara akan maju jika dibiarkan tumbuh sendiri dan negara akan maju tanpa agama.

Kelompok Islam seperti Wahid Hasyim, Agus Salim dan lainnya, menolak keras pemikiran tersebut. Menurut mereka tidak mungkin mendirikan negara sekuler murni seperti di dunia barat. Sehingga terjadilah perdebatan.

Kelompok Islam menyampaikan dalil-dalil dan pada akhirnya keduanya bertemu di titik tengah. Soekarno bersedia mengakomodir agama dalam negara, tetapi tidak hanya Islam, melainkan semua agama.

ʺIni yang namanya nalar ketemu nalar, perdebatan dengan menggunakan akal sehat dan disertai budi pekerti. Sehingga menghasilkan negara Pancasila. Bukan negara agama, tetapi mengakomodir banyak agama,ʺ terang Mahfud.

Lebih lanjut Mahfud menjelaskan, Ahmad Dahlan, Hasyim Ashari dan tokoh Islam lainnya tidak pernah melakukan diskriminasi. Kebhinekaan negara dijaga sejak awal berdiri.

Menurutnya, ada empat tanda-tanda suatu negara menuju kehancuran, yaitu pertama jika pemerintah mengalami disorientasi dalam hal penegakan hukum. Dimana pemerintah tidak lagi menjunjung tinggi tujuan penegakan hukum dan hukum tidak lagi ditaati.

Jika hal tersebut terjadi, maka selanjutnya akan menuju distrust atau hilangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Rakyat tidak lagi percaya kepada pemerintah, setiap kali ada pejabat yang berbicara, rakyat tidak akan mendengarkan.

Akhir dari keduanya adalah disopinion dimana rakyat sudah mulai membangkang dan melakukan perlawanan. Selanjutnya terjadilah disintegrasi. Perpecahan terjadi dimana-mana dan bangsa menjadi rapuh.

ʺDisorientasi, distrust, disopinion dan disintegrasi, maka negara menuju kehancuran. Tetapi Indonesia tidak mengalami hal tersebut. Bahkan kita optimis Indonesia akan memasuki masa kejayaannya pada tahun 2045, dimana negeri ini akan menjadi negara terbesar ke-3 atau ke-4 di dunia,ʺ terangnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menyebut, sebentar lagi Indonesia memasuki momentum pembaharuan, dimana akan dilakukan pemilihan pemimpin negeri ini.

Ia berpesan agar semua proses berjalan dengan aman. Sebab, agama itu menumbuhkan kenyamanan, enak tapi tidak boleh seenaknya, dan tidak marah atau tidak memusuhi kepada orang yang berbeda keyakinan.

Lihat juga...