Mahoni dan Kemiri, Sarana Penghijauan dan Sumber Penghasilan

Editor: Mahadeva

317

LAMPUNG – Masyarakat di Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) mempertahankan keberadaan Mahoni atau Swietenia mahagoni dan Kemiri atau Aleurites moluccana, sebagai tanaman peneduh.

Sumarji,memanen dan mengumpulkan buah mahoni untuk dijual sebagai bahan obat – Foto Henk Widi

Sumarji (50), salah satu warga Desa Rawi menyebut, tanaman mahoni dipertahankan sebagai tanaman pagar, peneduh jalan, dan menjadi tanaman produktif untuk diambil kayu sebagai bahan bangunan dan bahan bakar. Sementara, kemiri, yang kerap ditanam pada lahan miring dimanfaatkan untuk mencegah longsor.

Pohon Mahoni memiliki ciri khas berbatang keras, kulit mudah mengelupas, dan berumur panjang. Batang pohon yang kuat, membuat pohon tersebut kerap dipergunakan sebagai pohon peneduh. Banyak ditemui di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Dimanfaatkan pula sebagai pohon penghijauan di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa.

Pemanfaatan Mahoni sebagai tanaman penghijauan, mulai dilakukan pada upaya reboisasi gunung Rajabasa melalui program Kebun Bibit Rakyat (KBR). Kegiatannya digagas oleh Kementerian Kehutanan kala dipimpin Zulkifli Hasan yang menjadi Menteri Kehutanan.

Sumarji menyebut, Mahoni dan Kemiri dipilih, karena kedua jenis pohon tersebut bersifat multifungsi. Sebagai tanaman yang tidak boleh ditebang di kawasan hutan lindung, masyarakat bisa memanfaatkan buah dari kedua jenis pohon sebagai sumber penghasilan. Konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kehutanan tanpa merusak tanaman hingga kini masih dipertahankan masyarakat di sekitar gunung Rajabasa.

“Banyaknya perambahan hutan kala itu membuat penanganan kerusakan, dicegah dengan melakukan penanaman pohon yang memiliki nilai ekonomi tinggi, tanpa merusak dan bahkan bisa menjadi sumber pemasok mata air, hingga kini masih dipertahankan warga,” terang Sumarji kepada Cendana News, Rabu (13/2/2019).

Kala itu warga diberi bibit untuk ditanam di kebun. Setiap satu kelompok KBR, diberi bibit beraneka jenis tanaman penghijauan, yang berjumlah sekira 50.000 bibit, diantaranya mahoni dan kemiri. Pertumbuhan yang cepat, membuat buah mahoni dan kemiri bisa dipanen dalam jangka waktu tiga tahun. Pengambilan buah di kawasan hutan lindung diperkenankan, sepanjang tidak merusak atau menebang pohon utama.

Kini penanaman Mahoni dan Kemiri, mulai dikembangkan di lahan produktif. Keberadaanya, dipergunakan sebagai tanaman sela. Mahoni ditanam di tepi jalan sebagai peneduh, di tepi aliran sungai untuk menjaga tanah dari longsor. “Pohon yang kami tanam memang umumnya tidak dimanfaatkan kayunya, tapi bagian buahnya saja kecuali jika tumbang secara alami,” beber Sumarji.

Buah mahoni memiliki rasa pahit seperti pil kina, sehingga kerap dicari untuk obat tradisional. Buah dipasok setiap bulan, menyesuaikan panen. Perkilogram buah mahoni kering, dijual Rp50.000 hingga Rp75.000. Sementara buah kemiri, yang kerap dipergunakan sebagai bumbu dapur, dijual dalam kondisi kering dengan harga Rp5.000 hingga Rp7.000 perkilogram.

Sumarji menyebut, selama ini tidak banyak masyarakat yang memanfaatkan kedua jenis pohon tersebut untuk sumber penghasilan. Buah yang berserakan di sepanjang Jalinsum kerap dibiarkan. Sumarji telaten memanen, saat puncak buah Mahoni matang berlangsung di sekira Februari hingga Maret. “Hasilnya lumayan, selain dari kebun yang saya miliki, dari kawasan hutan lindung buah mahoni bisa diperoleh di sepanjang jalan yang ditanami pohon tersebut,” beber Sumarji.

Penanaman mahoni cukup mudah, dari biji bisa tumbuh menjadi tunas dengan mudah. Sumarji menyebut, selain sebagai tanaman konservasi, kedua jenis pohon tersebut bisa menjadi alternatif menambah penghasilan bagi petani.

Muslimin, salah satu pedagang bibit pohon keliling menyebut, minat masyarakat untuk menanam pohon mulai meningkat. Yang menjadi pilihan, adalah bibit pohon buah dengan usia berbuah singkat. Pilihan bibit dengan sistem okulasi, atau sambung pucuk sering menjadi pilihan. Beberapa bibit yang dijual diantaranya jambu jamaica, kelengkeng, kelapa kopyor, serta sejumlah pohon buah.

Muslimin, yang berasal dari Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur, juga menyediakan bibit pohon non buah, seperti medang, jati, sengon, mahoni, kemiri, ketapang kencana. “Saya menyediakan bibit pohon sebagian hanya contoh, jika ada yang minat dalam jumlah banyak akan dikirim,” ujar Muslimin.

Masyarakat menanam pohon sebagai tanaman investasi. Yang sering dipilih jati ambon, sengon serta pohon gaharu. Selain untuk investasi, juga dimanfaatkan untuk penghijauan.

Lihat juga...