Makam Somenggalan Saksi Kekejaman Belanda di Kemusuk

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

207

YOGYAKARTA — Selama masa perang kemerdekaan atau Agresi Militer ke 2 tahun 1948-1949, Yogyakarta yang saat itu merupakan Ibukota NKRI menjadi sasaran utama serangan Belanda. Tak sedikit pertempuran pecah dan berlangsung di sejumlah wilayah.

Salah satunya adalah dusun Kemusuk, yang terletak sekitar 10 kilometer di sebelah barat Kota Yogyakarta. Dusun yang kini secara administratif berada di kelurahan Argomulyo Sedayu Bantul ini beberapa kali diserang pihak Belanda karena merupakan tempat kelahiran Komandan Wehrkreise III, Letkol Soeharto.

Selama masa Class ke 2 tahun 1948-1949 itu, tercatat ada ratusan pejuang yang tergabung dalam laskar-laskar, termasuk penduduk sipil di desa Kemusuk tewas, karena ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Secara tersebar, mereka dikuburkan di 86 makam penduduk.

“Untuk mengenang dan menghormati jasa para pejuang, pada tahun 1990 jenazah yang awalnya tersebar itu dikumpulkan dan dijadikan satu di sebuah lokasi makam. Ide ini muncul dari inisiasi tokoh masyarakat dusun Kemusuk dan didukung penuh pihak pemerintah. Makam inilah yang kemudian disebut Makam Pejuang Somenggalan,” ujar tokoh masyarakat dusun Kemusuk, Gatot Nugroho.

Makam Somenggalan
Gatot Nugroho menunjukkan salah satu nama warga yang menjadi korban serangan Belanda yang masih berumur 3 tahun. Foto: Jatmika H Kusmargana
Di makam Somenggalan ini tercatat ada sedikitnya 203 pejuang yang dimakamkan. Beberapa di antara mereka adalah Joyo Wigeno yang merupakan Jogoboyo atau Kepala Keamanan dusun Kemusuk saat itu. Ia pertama kali menjadi korban Belanda setelah dieksekusi. Selain itu juga terdapat makam Atmopawiro, bapak dari Probosutejo yang juga ikut gugur karena terkena peluru Belanda di bagian kepala.

Beberapa waktu terakhir, Probosutejo yang tidak lain adalah adik Pak Harto juga dimakamkan di Makam Somenggalan ini berdampingan dengan ayah kandungnya serta para pejuang lainnya yang gugur demi menjaga kehormatan dan kedaulatan Indonesia.

“Sebenarnya jumlah korban tewas saat Class ke II di Kemusuk ini tidak hanya 203 orang yang dikuburkan di makam Somenggalan ini saja. Masih banyak korban lainnya. Namun karena ada sebagian yang tetap memilih dikuburkan di makam keluarga masing-masing, maka tidak semua dikuburkan di Makam Somenggalan ini,” imbuh Gatot.

Makam Somenggalan
Gatot Nugroho. Foto: Jatmika H Kusmargana

Diresmikan pada 1 Maret 1991 oleh Wakil Presiden Sudharmono kala itu, Makam Somenggalan sendiri dibangun sebagai tetenger atau pengingat akan semangat perjuangan warga dusun Kemusuk dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Sementara nama Somenggalan sendiri dipilih karena di sebelah lokasi makam ini terdapat makam tokoh Kyai Wongsomengolo yang merupakan cikal-bakal dusun Kemusuk.

“Makam ini dicat berwarna putih biru, karena putih merupakan lambang kesucian. Sementara biru merupakan lambang kedamaian. Harapannya para pejuang yang dimakamkan di sini bisa mendapatkan kesucian dan kedamaian di sisi Tuhan YME,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...