Marsma Andi Wijaya, Ungkap Sejarah Panjang Pangkalan Abdulrachman Saleh

Editor: Mahadeva

344

MALANG – Buku berjudul, 78 Tahun Pangkalan TNI-AU Abdulrachman Saleh, Lahir dan Besar di Lembah Bromo, mengungkap sejarah panjang pangkalan milik TNI tersebut.

Pangkalan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) Abdulrachman Saleh, merupakan pangkalan udara yang dibangun di bekas wilayah kerajaan Singasari. Banyak hal menarik dari sepenggal riwayat kedirgantaraan Indonesia di Pangkalan Abdurahman Saleh, yang belum terekspos.

Melihat potensi sejarah tersebut, pangkalan TNI-AU Abdulrachman Saleh meluncurkan buku berjudul, 78 Tahun Pangkalan TNI-AU Abdulrachman Saleh Lahir dan Besar di Lembah Bromo. Penulis buku sekaligus Komandan Lanud Abd. Saleh, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Andi Wijaya, S.Sos, menyebut, buku tersebut merupakan tinjauan sejarah perjalanan panjang pangkalan udara Abdulrachman Saleh, sejak 1940 hingga 2018.

“Buku ini sangat menarik, karena ada beberapa hal yang tercantum di dalam buku tersebut merupakan hal-hal baru, atau mungkin tidak terekpos, bahkan di kalangan TNI AU sendiri,” ujarnya, saat peluncuran buku di Shealter Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Rabu (13/2/2019).

Buku tersebut menggambarkan tiga masa. Mulai dari masa Kerajaan Singosari, masa penjajahan, hingga masa setelah kemerdekaan.  Diceritakan, wilayah Lanud Abd Saleh memiliki kesinambungan sejarah. Sejak jaman Singosari, menjadi mandala (satuan wilayah) dari kerajaan yang pusatnya di Singosari. Nama tempat (toponim) Bugis, dewasa ini masih tertinggal sebagai nama desa yang kemudian juga bernama Lanud Bugis. Di kemudian hari, kawasan tersebut bernama Lanud Abdulrachmam Saleh seperti saat ini.

“Dulu, pangkalan udara Bugis pertama kali dibangun oleh angkatan udara Belanda, pada 1937 hingga 1940. Tapi sejak 17 Agustus 1952, secara resmi diubah namanya dari semula pangkalan udara Bugis menjadi pangkalan udara Abdulrachmam Saleh,” terangnya.

Hal menarik lain yang diungkap dalam buku tersebut adalah, pesawat TNI AU pertama kali dirakit, dan mendapatkan tes terbang untuk pertama kalinya di pangkalan tersebut. Kemudian pembentukan pasukan pertahanan pangkalan yang pertama, juga berlangsung di Abdulrahman Saleh. “Jadi banyak hal yang diawali dari pangkalan udara Abdulrachman Saleh, seperti raja-raja pertama yang ada di jawa ini berasal dari wilayah Jawa Timur atau Singosari,” ungkapnya.

Fakta menarik lain yang diungkap adalah, yang memiliki pesawat pada awalnya bukan angkatan udara, tapi angkatan darat. Di dalam buku tersebut diceritakan, bahwa ada divisi tujuh dan divisi delapan angkatan darat, yang justru memiliki pesawat.  “Tapi setelah kita perbaiki dan tes flight, barulah kemudian kita minta pesawatnya. Itulah sejarahnya. Jadi sebenarnya banyak hal-hal yang tidak terekspose dan tidak banyak orang yang tau,” tandasnya.

Dengan diterbitkannya buku tersebut, diharapkan masyarakat khususnya generasi muda, bisa mengenal dan memahami perjalanan sejarah Pangkalan Udara TNI-AU Abdulrachman Saleh. “Ada pepatah mengatakan, Tak kenal maka tak sayang. Jadi melalui buku ini, masyarakat bisa lebih sayang Pangkalan Udara TNI-AU Abdulrachman Saleh,” harapnya.

Lebih lanjut disebutkan, buku tersebut tidak hanya diperuntukan bagi kalangan TNI AU. Masyarakat umum juga bisa memilikinya. “Saat ini memang masih dicetak sebanyak 75 eksemplar, tapi ke depan, nanti akan kita cetak lebih banyak lagi,” sebutnya.

Buku yang dikerjakan selama enam bulan tersebut, proses pengerjaanya sering terkendala sulitnya mendapatkan foto-foto asli jaman dulu. Termasuk untuk mendapatkan keterangan dari saksi mata yang masih hidup. “Jadi tim kami langsung datang ke lokasi bekas pangkalan TNI angkatan udara, untuk mencari data sekaligus foto asli,” pungkasnya.

Lihat juga...