Masakan Perempuan yang Kau Sebut Ibu

CERPEN ARIEZAL GIFT

487

AKU tak pernah berpikir bahwa setiap masakan itu memiliki kekhasan sendiri-sendiri, juga memiliki bermacam cara dalam mengolahnya.

Dulu waktu aku masih SD, aku tak punya pikiran apa-apa tentang masakan kecuali memakannya dengan lahap dan aku bisa kenyang. Itu saja. Tanpa pernah punya pikiran selain itu.

Bahkan ketika aku tinggal di sebuah pesantren pun tak terpikir olehku bahwa sebuah masakan bisa mengubah jalan hidup seseorang, yang ada dalam pikiranku saat itu hanya ingin memuaskan dahaga perut secara enak dan gratis. Itu saja.

Setelah aku menelaah lagi setiap masakan yang ada dengan jeli dan serius, baru aku terpikir satu hal tentang pemaknaan hidup dan kesederhanaan dari masakan perempuan yang biasa disebut ibu oleh diriku, dirimu juga diri-diri yang lain dan aku juga percaya bahwa semua itu bukan hanya ada dalam imajinasi, tapi nyata dengan senyata-nyatanya.

Baiklah, aku akan menjelaskan perihal masakan perempuan yang kau sebut ibu dengan pemaknaannya jika kau masih tak percaya juga.
****
MULAI dari masakan sederhana namun penuh dengan kenikmatan yang tiada tara. Ialah masakan tahu dan tempe goreng ditambah dengan sambal tomat. Memang masakan itu sangat sederhana dan mudah sekali memasaknya, tetapi terkadang orang hanya memandangnya dengan pandangan rendah dan hina. Padahal jika dilihat-lihat lagi masakan itu penuh dengan kesehatan dan kasih sayang.

Kau mungkin bingung dengan tulisanku di atas, tetapi itulah adanya. Tahu dan tempe memiliki banyak sekali kesehatan yang ingin dibagikan kepadaku, kepadamu juga kepada mereka –orang-orang yang suka merendahkan yang lain dan merasa paling sempurna– secara gratis.

Meski di antara kita telah meremehkan kehadiran mereka berdua –tahu dan tempe– dengan semena-mena. Selain kesehatan, mereka juga mengajari kita –aku, kau, dan mereka– tentang berkasih tanpa pamrih.

Mereka rela jadi masakan apa pun tanpa menuntut apa pun. Termasuk bentuk tubuh mereka sendiri. Tetapi malah terkadang kita lebih memilih daging dan ikan sebagai pemeran utama makanan dan mengesampingkan tahu tempe sebagai makanan pembantu bila memang dana tak mencukupi. Itu pun dengan terpaksa.

Meski begitu, sosok tahu tempe masih tetap setia dan baik hati terhadap perlakuan mereka. Mungkin itulah yang dinamakan dengan ketulusan tanpa upah. Dan mungkin dari masakan itu pula yang membuat negeri kita (aku, kau, dan mereka) semakin terkenal mendunia.

Setelah masakan yang sederhana, lalu aku akan lanjut pada masakan sup. Di dalam masakan ini pula terdapat pelajaran berharga yang mungkin telah kita lupakan sejak kita mengenal uang dan kemewahan.

Jangan kau marah dulu, aku akan menjelaskannya. Masakan sup adalah masakan cair berkuah yang bisa menampung berbagai macam sayur dan beberapa lauk hewani. Sup memang tidak lahir di negeri kita, tetapi dengan keberadaannya di negeri ini, mungkin kita juga bisa mengambil pelajaran darinya.

Jangan kau berpikiran lebih jauh dulu. Biarkan aku selesaikan penjelasan ini. Kau hanya cukup diam dan dengarkan.

Begini, sup bisa menerima segala macam sayuran dan beberapa lauk tanpa pilih-pilih tidak memandang dari segi harga yang mahal atau murah. Yang terpenting sup tadi bisa menjadi masakan yang enak dan bisa menjadi pelipur lapar. Dan yang paling penting adalah membuat kita jadi semangat lagi dalam beraktivitas.

Lalu pelajarannya apa? Ah kau tak sabaran. Baiklah, aku lanjutkan. Pelajaran yang bisa kau ambil itu sudah ada dalam penjelasanku tadi. Yang mana? Ah kau ini, baiklah aku ulangi lagi.

Dari masakan sup ada pelajaran tentang penghargaan terhadap semua golongan tanpa membeda-bedakan agama, harta, atau pun rupa. Semua melebur jadi satu dan menjadi sebuah masakan sup yang lezat, eh maksudku menjadi negeri satu yang damai.

Selain itu, masakan sup juga bisa menambah gairah hidup kembali merekah jika kau lagi dirundung oleh jutaan masalah. Dan masih banyak lagi pelajaran dalam masakan tersebut, silakan kau gali sendiri, tetapi sebelum itu, habiskan dulu masakan sup yang aku hidangkan ini.

Setelah kau tandaskan masakan-masakan tadi, santailah dulu. Jangan kau pergi, aku masih belum tuntas membahas tentang masakan perempuan yang kau sebut ibu. Hah! Kau gila? Aku sudah kenyang tahu! Ini bukan masalah kenyang atau lapar. Tetapi lebih dari apa yang mereka pikirkan tentang masakan perempuan yang kau sebut ibu.

Aku tak ingin mereka seenaknya menghina dan mencaci tanpa menghargai usaha ibu dalam memasak. Itu saja. Mohon kau mengerti. Oke, aku lanjutkan pembicaraan ini besok saja. Sekarang tidurlah dulu.

Keesokan harinya, kutemukan kau masih terlelap enak di bawah selimut. Woy bangun! Matahari sudah tinggi masih molor saja. Memangnya hidup itu untuk numpang tidur aja heh!

Baiklah, aku bangun. Silakan kau lanjutkan ocehanmu kemarin. Aku harap ini untuk yang terakhir dan kau pergi dari kehidupanku. Baiklah kalau itu maumu. Aku akan turuti. Kali ini aku akan membahas tentang masakan khas daerahmu.

Apa maksudmu? Kau mau membahas masakan nasi krawu?

Tepat sekali tebakanmu. Nasi krawu adalah nasi putih dengan iring-iringan suwiran daging (biasanya yang paling utama adalah daging sapi, tetapi yang paling sering aku temui adalah memakai daging ayam), serundeng (parutan kelapa yang diwarnai kuning atau yang lainnya, tetapi yang paling umum adalah warna kuning), dan ditambah dengan sambal petis terasi yang pedas.

Namun, aku tidak akan membahas perihal pelajaran di dalam masakan itu, melainkan tentang pandangan makan menggunakan tangan kanan yang menurut orang-orang kota sebagai suatu ketidakhigienisan.

Memang, sekilas jika kita melihat orang-orang desa, pinggiran kota, pelosok desa bahkan anak pesantren yang sedang makan menggunakan tangan itu, terlihat menjijikkan dan tidak higienis. Apalagi jika mereka makannya keroyokan dalam satu talam malah semakin membuat mereka -orang kota- mual dan jijik. Padahal jika mereka mau melihat dari sisi lainnya pasti mereka akan meniru tingkah makan dengan tangan itu.

Apa maksudmu?

Maksudku begini, jika orang-orang kota itu mau melihat kita dari sisi yang lain dengan melihat ekspresi kebahagiaan dan keceriaan di wajah kita saat kita sedang menikmati makanan dengan tangan, pasti mereka akan bertanya-tanya begini.

Orang-orang itu memang aneh, makan keroyokan dengan tangan saja wajahnya sangat ceria. Memangnya tidak takut sakit perut apa? Lalu kita jawab saja dengan senyum mengembang. Sebenarnya bukan masalah itu yang kita takutkan pada diri kita.

Justru karena dengan begitu, kita malah bisa saling mengeratkan persahabatan, saling mengasihi juga saling memberi berkah dalam setiap suapan nasi. Selain itu, segala penyakit malah akan pergi dari diri kita tanpa perlu kita mengusirnya. Seperti penyakit sombong, kikir, dan ingin menang sendiri.

Semua akan lenyap saat makan keroyokan dalam satu talam. Itu permasalahan perihal makan bareng-bareng. Untuk perihal makan dengan tangan malah lebih menyehatkan dan mencegah penyakit serius menyerbu.

Karena dalam tangan terdapat enzim-enzim yang akan melindungi dan membentengi diri kita dari bakteri jahat yang bisa membuat kita terkena penyakit berat. Justru makan dengan sendok yang bisa membuat bakteri jahat datang menyerbu secara bertahap. Dan akhirnya mereka -orang-orang kota- akan meniru apa yang kita lakukan selama ini.

Aku menjelaskan itu semua bukan hanya fiksi belaka, melainkan dari penelitian orang-orang jenius sebelumku. Jadi, bisa dibilang penjelasanku yang kemarin sampai sekarang adalah fakta yang terjadi pada kehidupan kita saat ini.
****
BEGITULAH catatan aneh ini aku tulis. Aku menulisnya agar kau lebih tahu lagi tentang masakan perempuan yang kau sebut ibu, tentang penghargaan terhadapnya, dan tentang caramu bersikap melalui tatapan mata indahmu itu.

Bukan maksud menyinggungmu, namun aku hanya ingin menyingkap sedikit tirai matamu yang terkatup oleh debu kesombongan itu. Supaya hal terkecil dan paling remeh di dunia ini tak menumpang lewat saja, melainkan bisa diajak ngopi bareng.

Kau mengerti maksudku, bukan? Selamat mengigau. ***

Ariezal Gift, penulis asal Gresik, Jawa Timur. Pernah bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...