hut

Mayoritas TKI di Sabah Bekerja Tak Prosedural

Wilayah Kabupaten Nunukan - Dokumentasi CDN

NUNUKAN – Pemberangkatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) melalui Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ke Negeri Sabah, Malaysia masih marak.

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Nunukan, Kombes Ahmad Ramadhan, menyebut ada 95 persen Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berangkat ke Sabah tanpa prosedur yang benar. Banyaknya PMI nonprosedural (ilegal) yang bekerja di Negeri Sabah, disebabkan berbagai faktor. Di antaranya banyaknya pintu tanpa pengawasan atau biasa diistilahkan jalur tikus di Kabupaten Nunukan.

Ahmad Ramadhan menyebut, WNI yang bekerja di Negeri Sabah diperkirakan mendekati satu juta jiwa, termasuk anak-anaknya. Padahal, upaya pencegahan TKI nonprosedural telah dilakukan salah satunya dengan penerbitan aturan baku dan sanksi-sanksinya. Karena itu, Ahmad Ramadhan mengajak semua pihak dalam hal ini instansi terkait di Nunukan, agar ikut menjalankan langkah nyata dalam pencegahan pekerja migran nonprosedural.

Hasil pengamatan dan informasi yang diterima menyebut, WNI yang berangkat secara ilegal di Kabupaten Nunukan, biasa melewati Pulau Sebatik. Ada kemudahan pemberangkatan secara ilegal oleh oknum tertentu.

Oleh karenanya, jumlah WNI yang mengurus dokumen di BP3TKI Nunukan sedikit. “Dampak ari TKI ilegal, jumlah deportasi (pemulangan) dari Negeri Sabah cukup tinggi, setiap bulan jumlahnya mencapai ratusan orang,” tandasnya.

Ahmad Ramadhan menyebut, deportasi yang dilakukan juga dibatasi oleh Pemerintah Malaysia. Hal itu mempertimbangkan kemampuan anggaran negara tersebut untuk memulangkan para pekerja migran tersebut.

Jumlah WNI yang bekerja secara ilegal dan dipulangkan dari Negeri Sabah ke Kabupaten Nunukan, pada Januari 2019 mencapai 500 orang lebih. “Ini membuktikan bahwa jumlah WNI yang tertangkap oleh aparat Malaysia cukup besar, akibat tidak memiliki dokumen keimigrasian sebagai pekerja asing,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...