Mengenal ENSO, Si Pemicu Cuaca Ekstrem Indonesia

Editor: Makmun Hidayat

332
Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, M.Sc saat menjelaskan pergerakan aliran air laut di Samudera Pasifik - Foto:Ranny Supusepa

JAKARTA — Perubahan pola cuaca dan gangguan musim yang muncul di Indonesia, oleh masyarakat, sering dikaitkan dengan fenomena El Nino dan La Nina. Bahkan masyarakat awam pun seringkali menyebut El Nino sebagai kambing hitam terjadinya panas terik yang terjadi beberapa kali di Indonesia.

Tapi jika ditanyakan secara mendetail, hampir mayoritas masyarakat tidak memahami apa yang dimaksud dengan El Nino dan La Nina ini. Dan bagaimana korelasinya sehingga menimbulkan perubahan cuaca di Indonesia.

Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto, M.Sc menjelaskan bahwa El Nino dan La Nina awalnya merupakan istilah yang berasal dari bahasa Spanyol yang digunakan untuk menyebut aliran arus laut hangat yang mengalir dari utara ke selatan antara Pelabuhan Paita dan Pacasmayo di Peru pada bulan Desember.

Tapi akhirnya dipergunakan secara umum karena fenomena El Nino dan La Nina juga terjadi pada skala global.

“El Nino (dibaca El Ninyo) dan La Nina (dibaca La Ninya) ini sebenarnya merupakan gejala penyimpangan pada suhu permukaan laut Samudera Pasifik,” kata Siswanto di Gedung D BMKG Jakarta Rabu (13/2/2019).

Penyimpangan itu, jelasnya, diikuti dengan perubahan kondisi atmosfer angin pasat di atasnya yang ditandai oleh perubahan tekanan udara dan pola angin di Samudera Pasifik sebelah selatan. Sebagai peristiwa kopel antara laut dan atmosfer itu, gangguan iklim El Nino dan La Nina lalu juga dikenal sebagai ENSO, yaitu El Nino Southern Oscillation.

Para nelayan di perairan Pasifik telah mengenal fenomena ini selama berabad-abad. Setiap tiga sampai tujuh tahun antara bulan Desember dan Januari, biasanya terjadi suatu pola cuaca yang menyimpang yang membuat ikan ikan di perairan tersebut menghilang.

“Untuk menentukan yang terjadi El Nino atau La Nina kita menggunakan sebuah indek perhitungan suhu permukaan laut di wilayah indikator di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur,” ucap Siswanto.

Dari indeks itu, lanjutnya, ENSO kemudian terbagi menjadi dua, yaitu ENSO hangat yaitu El Nino dan ENSO dingin yaitu La Nina. ENSO hangat menandai permukaan laut yang lebih hangat di Pasifik tengah atau timur, atmosfer di atasnya juga lebih hangat, konvektivitas udara dan pembentukan awan hujan menguat, hujan terkonsentrasi di Pasifik tengah dan timur, namun berdampak mengurangi curah hujan di Indonesia. Sebaliknya untuk La Nina.

Untuk mengenali gangguan atmosfernya, kopling laut – atmosfer ENSO diidentifikasi menggunakan nilai indeks osilasi Selatan (SOI). Darinya dikenali SOI positif yang merujuk pada La Nina dan SOI negatif yang merujuk pada El Nino. Indek ini dihitung dari beda tekanan antara Tahiti (di tengah Pasifik) dan Darwin (Australia).

“El Nino dan La Nina berdasarkan pola penyimpangan suhu muka lautnya, bisa dibagi menjadi ENSO biasa (konvensional) dan ENSO modoki. El Nino kuat 2015/16 adalah tipe modoki dimana pusat penghangatan laut ada di Pasifik tengah, ” papar Siswanto.

Sementara yang 1997/8 adalah El Nino konvensional, pusat panasnya ada di Pasifik Timur. Saat terjadi El Nino Modoki, efeknya pada musim kemarau akan semakin kering dan curah hujan yang lebih rendah dibanding saat normal.

ENSO sejatinya memiliki periode tiga hingga delapan tahun sekali tetapi dengan adanya perubahan iklim, frekuensi ini seringkali berubah.

Menurut data tahun 1998 fenomena El Nino tercatat pernah terjadi sebanyak 23 kali dengan rata-rata 4 tahun sekali dan La Nina terjadi sebanyak 15 kali dengan waktu terjadi rata-rata 6 tahun sekali

“Dengan adanya perubahan iklim, frekuensi El Nino dan La Nina ini tidak mengikuti pakem yang ada. Bahkan bisa saja La Nina terjadi lebih banyak yang akan mendorong musim hujan yang lebih panjang dengan curah hujan yang lebih tinggi,” ucap Siswanto lebih lanjut.

Siswanto mengungkapkan harapannya, dengan dipahaminya ENSO ini oleh berbagai pihak, akan mampu merumuskan kebijakan yang mengantisipasi efek dari ENSO ini.

“Salah satunya yang bisa dijadikan contoh terdampak ENSO adalah bidang pertanian dan kehutanan. Karena efeknya akan langsung terasa,” pungkasnya.

Lihat juga...