hut

Meski Aktivitas Kegempaan Turun, Wisatawan Dilarang Mendekat GAK

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pos Pengamatan Gunung Berapi, Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargo Pancuran, Lampung dan Pasauran, Banten, masih melarang aktivitas wisatawan mengunjungi gunung api tersebut.

Hal tersebut disampaikan Suwarno, petugas pos pengamatan gunung berapi, Gunung Anak Krakatau, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (KESDM) di Desa Hargo Pancuran.

Suwarno menyebut, rekomendasi tersebut tetap diberlakukan bagi masyarakat atau wisatawan untuk tidak mendekati kawah dalam radius 5 kilometer dari kawah. Sebab aktivitas vulkanik gunung berapi di Selat Sunda tersebut meski sudah terlihat tenang masih fluktuatif.

Selama sepekan terakhir berdasarkan catatan alat seismograf dan laporan Magma Volcanic Activity Report (VAR) aktivitas kegempaan didominasi vulkanik dalam, tektonik lokal dan tektonik jauh.

Sumarno, petugas pos pengamatan gunung berapi, Gunung Anak Krakatau di desa Hargo Pancuran, kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Aktivitas kegempaan tersebut tercatat lebih menurun dibandingkan hari sebelumnya Sabtu (9/2/2019) dengan tiga aktivitas kegempaan tercatat. Pos pengamatan gunung anak Krakatau disebut Suwarno mencatat aktivitas kegempaan vulkanik dalam berjumlah 2, amplitudo 5-8 mm, S-P 0.6-0.9 detik, durasi 5-9 detik.

Tektonik lokal berjumlah 1, amplitudo 17 mm, S-P 6 detik, durasi 20 detik. Tektonik jauh berjumlah 2, amplitudo 2-12 mm, S-P tidak terbaca, durasi 38-39 detik.

“Catatan pada hari Minggu ini terpantau hanya ada aktivitas kegempaan vulkanik dalam berjumlah 1, amplitudo 11 mm, durasi 8 detik atau lebih menurun dibandingkan hari sebelumnya. Aktivitas ini bisa berubah sewaktu-waktu,” terang Suwarno, petugas pengamatan Gunung Anak Krakatau di desa Hargo Pancuran, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (10/2/2019).

Gunung Anak Krakatau yang semula memiliki ketinggian sekitar 338 meter di atas permukaan laut dan kini hanya 110 meter di atas permukaan laut tersebut, secara visual dari pos pengamatan terlihat cerah.

Kondisi meteorologi secara umum disebut Suwarno dalam kondisi cuaca cerah, berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, dan barat laut. Suhu udara 25-32 °C, kelembaban udara 0-83 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

“Catatan visual kami, gunung jelas, namun asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan ketinggian 25-50 meter,” papar Suwarno.

Berdasarkan catatan laporan tersebut, PVMBG disebut Suwarno, masih menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau Level III atau berstatus Siaga. Status tersebut diberlakukan sejak GAK terpantau mengalami pengurangan volume badannya, akibat erupsi yang diduga menjadi penyebab tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) silam.

Suwarno juga menyebut, aktivitas wisatawan atau pengunjung yang akan mendekati GAK harus mendapat izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Seksi III Wilayah Lampung.

Aktivitas dermaga penyeberangan Canti, kecamatan Rajabasa, berjalan dengan normal – Foto: Henk Widi

Selama ini disebutnya wisatawan yang akan mengunjungi Gunung Anak Krakatau menggunakan akses melalui wilayah Carita Banten atau melalui dermaga Canti di Kecamatan Rajabasa. Selanjutnya transit melalui pulau Sebesi.

Aktivitas dermaga Canti sebagai akses penyeberangan dari pulau Sumatera ke pulau terdekat dengan GAK hingga kini berjalan dengan normal. Meski sempat mengalami kerusakan masyarakat pulau Sebesi yang akan berbelanja di wilayah Kalianda menggunakan dermaga tersebut sebagai akses utama.

Perbaikan dermaga Canti yang rusak masih dalam tahap perbaikan pada bagian jembatan diinisiasi oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 0421/Lampung Selatan guna memudahkan akses warga.

Lihat juga...