Mobil Biodisel B50, Sukses Tempuh Medan-Jakarta

244
Ilustrasi - Foto Istimewa

JAKARTA – Uji coba kendaraan berbahan bakar Biodiesel 50 persen (B50) dari Medan ke Jakarta berjalan sukses. Uji coba yang dilakukan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) tersebut, dilakukan dengan dua mobil bermesin diesel.

Perjalanan dimulai Jumat (25/1/2019), dan tiba di Jakarta, Senin (28/1/2019). Setelah menembus jalur lintas timur Sumatera selama tiga hari perjalanan sepanjang 2.300 kilometer, mobil dengan jenis dan merek sama tersebut tiba di ibu kota tanpa hambatan apapun. “Alhamdulillah lancar, mobil tidak mengalami hambatan apapun. Tapi saya tegaskan, bahwa ini adalah hasil sementara,” ujar Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS, Muhammad Ansori Nasution, Minggu (3/2/2019).

Menurut pemilik gelar doktor dari Tsukuba University Japan tersebut, penggunaan B50 dan B20, menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan, tenaga mobil yang menggunakan B50, lebih rendah empat persen dibanding pada mobil yang menggunakan B20.

“Data lebih lengkap akan saya laporkan setelah kedua kendaraan menempuh perjalanan kembali dari Jakarta ke Medan,” kata Peneliti Rekayasa Teknologi & Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) tersebut.

Berdasarkan pengakuan pengemudi, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 kilometer, mobil uji hanya 10,61 kilometer. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, mengapreasiasi ujicoba yang dilakukan PPKS tersebut. Dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel, khususnya yang berbahan baku kelapa sawit.

“Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri berfungsi ganda, yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit, dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu dapat menghemat devisa impor minyak fosil,” katanya.

Direktur PPKS, Hasril Hasan Siregar, mengatakan, salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan adalah biodiesel. “Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” pungkas Hasril. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...