Monumen Stasiun Radio PC2 AURI Playen, Saksi Bisu Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret

Editor: Mahadeva

423

YOGYAKARTA – Berada 35 kilometer di sebelah tenggara pusat Kota Yogyakarta. Dusun Banaran, Desa Playen, Kecamatan Playen, Gunungkidul, menyimpan sejarah penting, bagian dari peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

Di dusun kecil tersebutlah, berita kebersilan pasukan pejuang RI merebut dan menguasai Ibu Kota Yogyakarta selama enam jam, disiarkan lewat radio ke seluruh dunia.  Adalah rumah sederhana, milik seorang warga biasa bernama Ny Prawirosetomo, yang digunakan sebagai markas stasiun radio gerilya tersebut.

Rumah yang sekarang dijadikan sebagai Monumen Stasiun Radio PC2 AURI tersebut, hingga kini masih kokoh berdiri. Rumah berbentuk limasan ini sepintas nampak seperti rumah tradisional Jawa biasa. Menempati tanah seluas 3.000 meter persegi, bangunan rumah hanya terdiri dari dua bagian. Yakni ruang utama, serta sebuah dapur.

Sementara bangunan berupa Joglo, di depan rumah telah dipindahkan. Di lokasi tersebut kini berdiri prasasti sebagai tugu peringatan peristiwa tersebut.  Masuk ke dalam ruang utama, nampak sejumlah foto-foto dipajang di dinding-dinding rumah. Terdapat juga sebuah keterangan yang menjelaskan sejarah rumah tersebut, sebagai markas radio gerilya pasukan AURI selama masa Agresi Militer ke II tahun 1958-1949.

Salah satunya adalah kesaksian Marsekal Madya Budiardjo, Mantan Komandan Stasiun PHB AURI Playen. Dalam keterangan itu disebutkan, sejak Belanda melakukan serangan ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Budihardjo mendapat tugas untuk mendirikan pangkalan atau stasiun radio rahasia. Dia kemudian mendirikan Stasiun PHB AURI di Dusun Banaran Playen tersebut, dengan memindahkan alat dan personel dari Pangkan Udara Gading.

Sutaryo menunjukkan foto-foto kenangan di rumah markas Stasiun Radio PC2 AURI Playen – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Rumah ini dijadikan markas, karena tempatnya yang aman dan tersembunyi. Sebab dulu di sekeliling halaman terdapat pagar duri pohon Suru yang cukup tinggi mengitari rumah ini. Ny Prawirosetomo kemudian menyumbangkan rumahnya sebagai markas. Apalagi hanya di rumah ini-lah, sinyal radio saat itu bisa tersambung,” ujar Sutaryo, pengelola Monumen Stasiun PC2 AURI Playen, yang juga cucu dari Ny Prawirosetomo.

Dengan alat berupa radio sangat sederhana jenis PC2, berita keberhasilan Serangan Umum 1 Maret, sebagai upaya merebut dan menguasai Ibu Kota Yogyakarta selama enam jam, disiarkan ke seluruh dunia dari tempat tersebut. Penyiaran dilakukan dengan menyampaikan berita tersebut ke stasiun sejenis di Sumatera. Kemudian berita diteruskan ke Birma dan India. Siaran itu dilakukan dengan menembus blokade informasi yang dilakukan Belanda, hingga sampai ke telinga dewan perwakilan Indonesia di sidang keamanan PBB.

Menurut keterangan di Monumen tersebut, siaran berita Serangan Umum 1 Maret dilakukan malam hari, setelah serangan dilancarkan sejak pagi hingga siang hari. Teks berita yang masih berupa tulisan tangan, dibawa langsung oleh Kolonel Simatupang ke wilayah Playen.

Teks kemudian dihancurkan agar tidak bisa dilacak oleh tentara Belanda. “Rumah ini kemudian dijadikan monumen atas perintah Pak Harto. Peresmian monumen dilakukan pada 10 Juni tahun 1984 oleh Gubernur DIY kala itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Hingga saat ini setiap Peringatan Serangan Umum 1 Maret, berbagai kegiatan seperti Upacara Bendera masih dilakukan di sini,” ungkapnya.

Lihat juga...