Pariwisata Lamsel Belum Bangkit, Berdampak pada Pelaku Usaha

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Lumpuhnya sejumlah sektor usaha pariwisata akibat tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) ikut berdampak pada sektor usaha lain di Lampung Selatan (Lamsel).

Salah satu pemilik usaha kerajinan berupa suvenir bernama Solehan, menyebut, kunjungan ke pantai Minang Rua, desa Kelawi, kecamatan Bakauheni masih belum normal.

Solehan yang membuat kerajinan akar kayu mengaku sebelumnya ia bisa menjual kerajinan miliknya pada wisatawan.

Sejumlah kerajinan kayu yang dibuat di antaranya asbak kayu, hiasan dinding, hiasan vas bunga serta asesoris lain dari akar kayu. Bahan yang digunakan berupa akar kayu setigi, akar kayu bakau
dibentuk sebagai hiasan.

Satu unit hiasan kerap dijual seharga Rp25 ribu hingga Rp100 ribu sesuai ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan. Sejumlah suvenir diakuinya cukup menguntungkan ketika dijual saat kunjungan wisatawan meningkat pada hari libur.

“Usai tsunami selain pantai yang masih kotor dan sebagian dalam tahap pembenahan, banyak yang menunda berwisata ke pantai karena masih trauma dengan tsunami yang melanda pantai,” terang Solehan salah satu perajin akar kayu saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (3/2/2019).

Pada kondisi normal ia mengaku, hari libur akhir pekan, liburan sekolah, kunjungan wisatawan ke pantai Minang Rua cukup banyak. Selain menguntungkan bagi pengelola, sejumlah warga juga mendapat berkah dengan berjualan kuliner, menyewakan homestay, menyewakan perahu.

Semua jenis usaha berkaitan dengan pariwisata tersebut diakui Solehan masih dalam tahap pemulihan. Beberapa tempat penjualan kuliner bahkan masih tutup akibat kerusakan yang belum diperbaiki.

Belum beroperasinya sejumlah tempat usaha berkaitan dengan usaha pariwisata diakui juga oleh Mian. Pemilik penginapan berjumlah sekitar enam kamar di objek wisata pantai Minang Rua tersebut mengaku, masih menutup penginapan miliknya.

Ia bahkan memastikan tempat usaha penjualan suvenir berupa baju dan warung kuliner miliknya belum dibuka.

“Pengunjung masih sepi karena pemulihan objek wisata belum selesai dilakukan ditambah banyak warga masih trauma ke laut,” papar Mian.

Mian juga menyebut, meski ada pengunjung ke objek wisata pantai ia memastikan dominan merupakan wisatawan lokal. Ia berharap sektor pariwisata bahari bisa segera pulih agar usaha yang ditekuninya bisa pulih.

Pada kondisi normal dengan berjualan suvenir dan kuliner ia dan sang istri bisa mendapatkan omzet ratusan ribu. Namun kini ia tidak mendapatkan penghasilan bahkan masih menganggur.

Pemilik usaha pembuatan kopi bubuk bernama Tri Budianto menyebut, lumpuhnya sektor pariwisata ikut berdampak pada usaha miliknya. Sejumlah lokasi wisata yang mulai bangkit diakuinya berada di wilayah pesisir Rajabasa dan Kalianda.

Tri Budianto, pemilik usaha pembuatan kopi dengan nama Krakatoa Coffee yang kerap dijual sebagai oleh-oleh di tempat wisata – Foto: Henk Widi

Sebelumnya ia memastikan sejumlah produk kopi dengan merk dagang Krakatoa Coffee tersebut kerap dijual di objek wisata. Saat sektor usaha wisata bahari terimbas tsunami produk kopi miliknya sementara mengalami penurunan penjualan.

“Pengaruhnya tentu terasa karena sebelum ada tsunami kebutuhan kopi untuk diseduh dan oleh-oleh cukup banyak,” beber Tri Budianto.

Upaya mendorong pulihnya sektor pariwisata bahari diakuinya ikut didukung oleh sejumlah komunitas dan relawan. Pada tahap awal sejumlah lokasi wisata muncul warung kopi (coffee shop) yang digunakan untuk menghidupkan suasana pantai di antaranya di desa Way Muli dan desa Kunjir.

Meski pada awalnya gratis namun dukungan dari produsen kopi bisa mendorong pulihnya sektor usaha wisata.

Dukungan pemulihan sektor usaha pariwisata juga akan dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Diparbud) Lampung Selatan.

Syaifuddin Djamilus, Kepala Bidang Pengembangan Disparbud Lamsel menyebut, usai kerusakan akibat tsunami, pendataan sudah dilakukan. Pendampingan kepada pelaku usaha juga dilakukan di sejumlah objek wisata termasuk pengadaan trauma healing pada pelaku usaha wisata.

Syaifuddin Djamilus, Kepala Bidang Pengembangan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Dalam waktu dekat direncanakan pada Kamis (7/2) mendatang, Disparbud Lamsel bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan pihak terkait akan mengadakan kegiatan pascatsunami. Kegiatan tersebut menyasar pelaku usaha ekonomi kreatif di objek wisata yang akan digelar di pantai Kunjir dan pantai Kahay.

Salah satu tujuan kegiatan tersebut diakui Syaifuddin Djamilus untuk menampung aspirasi serta mendorong kebangkitan sektor pariwisata melalui dukungan Kredit Usaha Kecil.

Dukungan finansial dari penyedia modal dengan prosedur yang lebih ringan disebutnya diharapkan ikut membantu pelaku usaha wisata. Sebab usai tsunami sejumlah pelaku usaha wisata diakuinya masih belum bangkit.

Selain warga harus kehilangan tempat tinggal, harta benda, permodalan menjadi kendala pelaku usaha untuk memulai usaha di sektor pariwisata.

Dukungan tersebut sekaligus ikut memulihkan perekonomian masyarakat yang ada di sekitar objek wisata bahari.

Lihat juga...