Pascatsunami, Aktivitas Warga Pesisir Rajabasa Mulai Menggeliat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

199

LAMPUNG — Sebagian warga pesisir Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) mulai melanjutkan aktivitas usai tsunami melanda wilayah tersebut pada 22 Desember 2018 silam.

Aji Pauji (37), warga Desa Kunjir menyebutkan, meski menjadi korban tsunami, namun ia memulai usaha jual beli komoditas pertanian pisang. Selain harta benda, ia juga kehilangan anak laki-lakinya yang berusia dua tahun dan mertua laki laki. Keduanya meninggal akibat terjangan ombak yang menerjang kawasan tersebut.

Berbekal sedikit modal pinjaman dari kerabat, ia membangun lokasi pengumpulan tandan pisang di bekas puing-puing rumahnya. Lokasi pengumpulan dibuat dari batang bambu beratapkan daun kelapa. Ia terus berupaya membuang rasa trauma setiap melihat laut karena lokasi pengumpulan tandan pisang masih berada di tepi pantai.

Lokasi tersebut diakui Aji Pauji ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan yang tidak boleh dibangun hunian permanen. Meski demikian ia menyebut lokasi pengumpulan tandan pisang dibuat sementara.

“Bersama istri saya kembali melanjutkan usaha dan tidak ikut mengungsi di tenda pengungsian, beruntung sejak sebulan terakhir usaha jual beli pisang milik saya sudah berjalan dengan normal,” terang Aji Pauji warga Desa Kunjir saat ditemui Cendana News, Rabu (20/2/2019)

Upaya untuk bangkit memulai usaha meski sudah kehilangan dua anggota keluarga, harta benda juga mendapat dukungan dari bos yang menerima pisang di Jakarta. Ia mendapat pinjaman satu unit mobil L300 khusus untuk mengangkut pisang.

Rajabasa
Aji Pauji, salah satu pemilik usaha jual beli pisang yang rumahnya hancur tersapu gelombang tsunami memulai kembali usaha yang sempat terhenti selama satu bulan. Foto: Henk Widi

Sebulan mulai beraktivitas, satu kali pengiriman ia bisa membawa sebanyak 200 tandan pisang berbagai jenis dari hasil kebun warga. Selanjutnya akan dijual ke Jakarta dengan harga per tandan berkisar Rp8.000 hingga Rp30.000 sesuai dengan jenis. Beberapa jenis yang dijual di antaranya Muli, Raja Nangka, Kepok, Tanduk, Janten serta berbagai jenis lainnya.

Aji Pauji menyebut lebih fokus memulai usahanya dengan omzet sekali pengiriman berkisar Rp2 juta. Dipotong dengan biaya pengiriaman, operasional pengangkutan, ia masih bisa mengumpulkan penghasilan ratusan ribu.

Aji Pauji mengaku daripada terlarut dalam kesedihan dan tinggal di pengungsian ia memastikan memilih melanjutkan usaha.

Geliat aktivitas warga usai tsunami juga terlihat di desa Way Muli Timur, kecamatan Rajabasa. Kawasan pesisir pantai Way Muli Timur yang hancur, sebagian masih dibiarkan belum didirikan bangunan. Selain ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau, kawasan tersebut sudah tidak diperbolehkan untuk dibangun bangunan.

Sejumlah anak anak yang memiliki orangtua bekerja sebagai nelayan terlihat mengisi waktu dengan bermain. Lokasi yang sudah dibersihkan dari puing-puing rumah mulai diratakan dan difungsikan sebagai area ruang terbuka hijau.

Kawasan tersebut menjadi lokasi favorit bagi anak anak bermain layang layang dan olahraga bola voli setiap sore.  Eka Satria (12) salah satu anak di desa Way Muli Timur menyebut memanfaatkan waktu sore dengan bermain bola voli.

“Sembari membantu orangtua menyiapkan peralatan melaut saya bermain bola voli di lokasi yang kini difungsikan sebagai ruang terbuka hijau,“ terang Eka Satria.

Eka Satria dan kawan kawannya berharap kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan ruang terbuka hijau bisa dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang. Selain lapangan olahraga bola voli, sejumlah fasilitas untuk bersantai berupa tempat duduk hingga warung kopi . Kawasan tersebut juga sekaligus menjadi lokasi saksi bisu kedahsyatan tsunami yang melanda pesisir Rajabasa oleh Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga
Lihat juga...