Pascatsunami Lamsel, Nelayan Bagan Apung Kembali Beroperasi

Editor: Satmoko Budi Santoso

262

LAMPUNG – Sejumlah nelayan bagan apung di dusun Minang Rua, desa Kelawi, kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) mulai beroperasi.

Toni Setiawan, salah satu nelayan bagan apung menyebut, akibat tsunami pada Sabtu (22/12/2018) sebanyak 12 bagan di wilayah tersebut 9 di antaranya mengalami kerusakan. Selain itu kerusakan juga menimpa sebanyak  40 unit perahu.

Selama sebulan usai tsunami Toni dan beberapa nelayan memilih melakukan perbaikan secara swadaya hingga akhirnya bisa kembali melaut.

Toni Setiawan menyebut, sejumlah nelayan pemilik perahu sudah mulai beroperasi setengah bulan usai tsunami. Nelayan yang sudah bisa melaut di antaranya pemilik perahu yang mengalami kerusakan ringan sementara perahu rusak berat belum diperbaiki.

Khusus untuk nelayan bagan apung, Toni Setiawan mengaku, perbaikan dilakukan selama hampir satu bulan sejak awal Januari sehingga awal Februari bagan apung sudah bisa dibawa ke titik penangkapan ikan.

“Butuh waktu sebulan memperbaiki bagan congkel karena bagian rumah pada bagan hancur, blong atau drum hilang serta sejumlah kayu penopang patah,” terang Toni Setiawan, pemilik bagan yang akan berangkat melaut saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu petang (2/2/2019).

Perbaikan kerusakan pada bagan apung diakui Toni Setiawan, membutuhkan biaya berkisar Rp5 juta hingga Rp6 juta. Sebab sejumlah lampu penerangan untuk bagan apung disebutnya per lampu bisa mencapai harga Rp500 ribu belum termasuk kerusakan pada bagian drum.

Secara keseluruhan bagan apung terbuat dari konstruksi kayu, bambu, drum plastik dalam kondisi baru membutuhkan biaya sekitar Rp30 juta hingga Rp50 juta. Pemilik bagan apung menurutnya melakukan proses perbaikan secara swadaya dan gotong royong, menggeser bagan apung yang terseret ke daratan puluhan meter dari bibir pantai.

Toni Setiawan menyebut, beroperasinya sejumlah bagan apung disebutnya masih dalam tahap penempatan pada lokasi yang tepat di perairan teluk Minang Rua. Sejumlah bagan apung diakuinya dipasang dalam jarak saling berdekatan, puluhan meter untuk memudahkan pengawasan menghindari terbawa arus.

Meski sudah dioperasikan dengan kelengkapan jaring, pencahayaan lampu, hasil tangkapan disebut Toni Setiawan belum maksimal seperti kondisi normal.

“Sudah mulai dioperasikan namun masih dalam tahap penyesuaian untuk lokasi tempat berkumpulnya ikan, hasil tangkapan belum maksimal,” papar Toni Setiawan.

Pemilik bagan apung lain bernama Marjaya menyebut, beroperasinya bagan apung pascatsunami menjadi harapan bagi nelayan. Pasalnya nelayan tangkap dan bagan apung sudah lebih dari sebulan tidak memperoleh hasil dari laut.

Beruntung sejumlah nelayan setempat memiliki sumber penghasilan dari kebun kakao, kelapa serta pisang. Hasil penjualan panen komoditas pertanian tersebut sebagian dipergunakan sebagai modal perbaikan alat tangkap perahu dan bagan apung.

“Sebagai pemilik bagan apung otomatis kami harus memiliki perahu motor untuk mobilitas, sementara perahu rusak harus diperbaiki,” beber Marjaya.

Nelayan bagan menggunakan perahu menuju ke bagan di teluk Minang Rua untuk memasang lampu dan peralatan tangkap ikan teri – Foto: Henk Widi

Pada kondisi cuaca normal tanpa gelombang tinggi dan angin kencang, nelayan bagan disebut Marjaya kerap mendapatkan teri dan cumi cumi. Ikan teri bahan pembuatan teri rebus pada musim bulan gelap atau bulan mati bisa diperoleh sebanyak 10 hingga 20 cekeng atau keranjang.

Harga per cekeng teri jenis jengki disebutnya saat ini berkisar Rp180 ribu hingga Rp200 ribu. Meski saat ini hasil tangkapan ikan teri memakai bagan apung belum maksimal dalam semalam, hanya sekitar 5 cekeng, hasil tersebut bisa menjadi pengganti biaya operasional.

Biaya operasional bagan apung disebutnya dipergunakan untuk bahan bakar solar untuk menghidupkan genset. Genset untuk penerangan dipakai sebagai penarik hewan laut yang akan jatuh di sekitar bagan sebagai umpan untuk ikan-ikan di wilayah tersebut.

Selain ikan teri sejumlah ikan yang kerap ditangkap saat malam hari di antaranya jenis layur, simba, kuniran, tengkurungan. Pada musim tertentu jenis cumi cumi bahkan dominan menjadi hasil tangkapan nelayan bagan di teluk Minang Rua tersebut.

Lihat juga...