Pascatsunami, Warga Minang Rua Terima Bantuan Peralatan Memasak

Editor: Satmoko Budi Santoso

191

LAMPUNG – Puluhan warga dusun Minang Rua, desa Kelawi, kecamatan Bakauheni akhirnya bernapas lega.

Pasalnya usai tsunami menerjang kawasan dusun di pesisir pantai Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 silam, warga hanya mendapatkan bantuan kebutuhan pokok.

Aliyah (35), salah satu warga terdampak tsunami yang kehilangan rumah berikut isinya mengaku, bantuan sementara hanya berupa mi instan dan beras.

Sebulan usai tsunami ia mengaku bersyukur ada relawan yang peduli memberikan bantuan yang selama ini belum diperoleh warga. Bantuan yang diterima di antaranya alat masak berupa kompor gas, tabung berikut regulator, pakaian, gula,minyak serta sejumlah bantuan lain.

Bantuan dari komunitas Inazuma Owner Network (ION) Banten disebutnya sangat membantu bagi dirinya dan warga lain untuk menjalani kehidupan sehari-hari sementara waktu.

Aliyah, warga Dusun Minang Rua Desa Kelawi berdiri di pondasi rumah yang mengalami rusak berat akibat tsunami – Foto: Henk Widi

Aliyah mengaku, akibat rumah yang roboh, saat ini ia terpaksa tinggal di salah satu rumah kerabat. Puing-puing rumah yang hancur diakuinya belum dibangun kembali akibat ketiadaan biaya.

Selain kehilangan rumah dan sebagian harta benda akibat tsunami, Aliyah yang suaminya bekerja sebagai nelayan juga harus kehilangan perahu. Perahu jenis ketinting sarana untuk mencari ikan sebagai sumber penghasilan disebutnya hancur terbelah menjadi dua.

“Bantuan berupa kebutuhan pokok sementara sudah kami peroleh terutama warga kampung nelayan. Hanya saja peralatan tangkap bagi nelayan masih belum ada bantuan sehingga belum bisa melaut mencari ikan,” terang Aliyah, salah satu warga terdampak tsunami di dusun Minang Rua, desa Kelawi, saat ditemui Cendana News, Sabtu (2/2/2019).

Aliyah menyebut, selama sepekan usai tsunami ia dan ratusan kepala keluarga di dusun Minang Rua mengungsi di balai desa. Usai kondisi kondusif dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang tenang warga kembali ke rumah masing-masing.

Aliyah yang tidak memiliki rumah usai tsunami akhirnya memilih tinggal sementara di salah satu rumah kerabat sementara puing-puing rumahnya masih dibiarkan belum dibangun kembali.

Datangnya bantuan dari para donatur salah satunya dari komunitas ION Banten mendapat apresiasi dari Satip, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kelawi.

Satip menyebut, meski tidak ada korban jiwa, kerusakan akibat tsunami di dusun Minang Rua hingga satu bulan usai tsunami masih terlihat. Dua warga yang kehilangan rumah sebagian masih belum membangun rumah yang rusak. Sejumlah perahu dan bagan yang rusak bahkan masih belum diperbaiki nelayan.

Satip menyebut, bantuan yang diberikan oleh komunitas ION Banten sangat meringankan beban warga. Sesuai data sebanyak 17 warga yang terdampak langsung tsunami dan mengalami kerusakan mendapatkan bantuan untuk kehidupan sehari-hari.

Satip, anggota badan permusyawaratan desa Kelawi mewakili warga menerima bantuan dari komunitas ION Banten – Foto: Henk Widi

Bantuan berupa peralatan memasak di antaranya kompor gas lengkap dengan tabung, regulator, wajan diakuinya sangat membantu. Demikian juga kebutuhan pokok serta pakaian yang langsung dibagikan merata kepada warga terdampak.

“Sebagian warga terutama ibu rumah tangga sangat mengharapkan bantuan peralatan memasak dan telah terealisasi oleh komunitas ION Banten juga pegiat literasi Motor Pustaka, Motor Perahu Pustaka,” beber Satip.

Satip wilayah di dusun Minang Rua menjadi wilayah yang ikut diterjang tsunami dan mengalami kerusakan pada sejumlah fasilitas. Meski tidak ada korban jiwa dan luka-luka namun di wilayah tersebut terdapat kerusakan rumah 2 buah, perahu 40 unit, bagan apung 9 unit.

Sebanyak 222 jiwa yang sempat mengungsi akibat khawatir tsunami susulan kini mulai kembali ke rumah masing-masing.

Kerusakan akibat tsunami juga menimpa pada amenitas pariwisata meliputi tempat Ibadah 1 unit, toilet 9 unit, kios kuliner 1 unit, kios suvenir 1 unit, kios warung 8 unit, cottage 2 unit, homestay 1 unit, gudang pelelangan ikan 3 unit, gudang peralatan, gazebo pantai 25 unit, landmark “Pantai Minangrua”.

Upaya gotong royong oleh masyarakat telah dilakukan dengan memperbaiki sejumlah fasilitas pariwisata tersebut.

Sugiharto, relawan dari komunitas ION Banten menyebut, bantuan dari berbagai pihak yang disalurkan melalui komunitas motor merupakan bantuan ketiga kalinya. Sebelumnya ION Banten disebut Sugiharto sudah datang ke lokasi yang diterjang bencana tsunami Selat Sunda di antaranya di wilayah Sumur, Provinsi Banten.

Selain itu bantuan juga diberikan kepada masyarakat Lampung Selatan di antaranya di desa Kunjir, kecamatan Rajabasa.

Bantuan kemanusiaan tersebut diakui Sugiharto merupakan hasil pengumpulan dana tunai, pakaian serta berbagai bentuk bantuan lain di antaranya buku. Teknisnya, diambil langsung oleh anggota komunitas selanjutnya didistribusikan ke korban bencana alam tsunami.

Penjemputan bantuan dari para donatur disebutnya bertujuan agar tidak merepotkan pemberi bantuan.

“Bantuan yang kita bawa bertujuan menolong serta berbagi sebagai saudara agar warga korban tsunami bisa kembali beraktivitas,” beber Sugiharto.

Pada kedatangan ketiga kalinya membawa bantuan untuk korban tsunami, Sugiharto datang bersama dengan Mamad, Johan Heru juga didampingi oleh Sugeng Hariyono pegiat literasi Motor Pustaka dan Ardyanto pegiat literasi Motor Perahu Pustaka.

Selain memberi bantuan kepada warga Minang Rua, komunitas ION Banten juga mengunjungi salah satu korban tsunami di dusun Kayu Tabu. Setelah itu komunitas ION Banten memberikan bantuan juga kepada warga di desa Kunjir, kecamatan Rajabasa.

Baca Juga
Lihat juga...