PATRI, Gerakan Kebangkitan Transmigrasi Nasional

Editor: Mahadeva

225

JAKARTA – Transmigrasi bukan sekedar program atau proyek. Transmigrasi adalah sebagai Gerakan. Hingga saat ini tidak ada lagi yang menyebut transmigrasi sebagai gerakan, kecuali di dalam visi Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI).

Ir. H.S. Pramono Budi, M.M, Sekretaris Jenderal DPP PATRI menyebut, sebelum ada PATRI, di daerah-daerah transmigrasi seperti Aceh, Pekan Baru, Lampung, sudah memiliki organisasi anak-anak trans. Anak-anak daerah yang kuliah di kota, bergerombol satu kampung menyewa rumah untuk tempat kost. Mereka juga memberikan nama seperti, Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Makarti (Pekan Baru), Himpunan Mahasiswa Muhajirin (Aceh), Forum Pemuda Pelajar Anak Trans (Kalimantan Barat).

Organisasi tersebut kemudian berkembang, pada jaman Menteri Transmigrasi, Siswono Yudhohusodo. Saat itu dibentuk forum kerjasama antara Departemen Transmigrasi dengan LSM Fortrans. Saat itu, lelaki yang akrab disapa Hasprabu tersebut, didapuk menjadi sekretaris di Fortrans.

Salah satu program Fortrans diantaranya, menangani lokasi-lokasi trans bermasalah. Hal itu, otomatis membawanya harus bepergian ke daerah bermasalah. Problem lain yang dihadapi Fortrans pada waktu itu, kedatangan massa pendemo dari Kalimantan Barat, yang mempermasalahkan lahan. Semakin lama, masalah yang dihadapi semakin kompleks. Fortrans tidak hanya menghadapi masalah lahan, namun juga masalah ekonomi, pendidikan, sosial budaya. Hal itu mendorong Fortrans membentuk organisasi gabungan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, meski akhirnya belum terealisasi.

Masuk masa Reformasi dengan Menteri Transmigrasi Jacob Nuwawea, Hasprabu bertemu aktivis dari Kalimantan, yang mengajak membentuk organisasi yang sebelumnya sudah tercetuskan. Pembentukan tersebut mendapatkan dukungan Menteri, melalui Dirjen Joko Sidik Pramono. “Awal Februari 2004, menjelang masa Pilpres, teman-teman semangat untuk membentuk organisasi dengan harapan semoga Presiden terpilih nantinya memahami aspirasi warga trans,” Jelasnya, Rabu (13/02/2019), di Kantor DPP PATRI, Kalibata, Jakarta Selatan.

Akhirnya, pada 15 Februari 2004, semua perwakilan anak-anak trans diundang. Mulai dari Aceh hingga Papua datang, untuk membuat deklarasi. Mengutip pidato Soekarno perihal transmigrasi sebagai gerakan nasional perekat bangsa. Maka tercetuslah nama PATRI, yang di Jawa Patri berarti solder (merekatkan). Dan setelah di utak-atik, ketemulah kepanjangan PATRI yaitu Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia.

PATRI berdiri pada 16 Februari 2004, dengan visi Gerakan Transmigrasi sebagai Perekat Nasional Lintas Agama, Suku, dan Budaya. Ketua umumnya Prof Muhadjir Utomo, Rektor Unila. Seorang anak trans dari pringsewu masa kolonisasi. Sekjennya Ir. H.S. Pramono Budi, M.M, anak trans dari Flori, Jaya Guna 2 Gunung Sugih. PATRI akhirnya semakin berkembang, dan organisasi kampus anak trans seluruh Indonesia bergabung dengan PATRI.

Hasprabu menyebut, PATRI adalah sebuah organisasi yang mewadahi anak keturunan kolonisasi, kuli kontrak, Romusha atau pekerja rodi, transmigran lokal, transmigran pendatang, dan eks repatrian Suriname. Keberadaanya membuka mata semua pihak, bahwa transmigran yang selama ini dipersepsikan sebagai warga marginal di negerinya sendiri, mampu mengkonsolidasikan diri.

Namun untuk mencapai semua itu, diperlukan perjalanan lebih dari 10 tahun. Sesuai dengan tema PATRI, membangun masyarakat yang inovatif dan kreatif, maka rekaman pembentukan PATRI merupakan puncak inovasi dan kreativitas yang telah lama dinantikan. PATRI sebagai organisasi begitu solid hingga saat ini. Hal itu, dikarenakan adanya faktor pemersatu, yang secara ideologis dan psikologis tertanam kepada setiap anggota dan kader.

Faktor pengikat tersebut diantaranya, rasa senasib sepenanggungan, keprihatinan, kesederhanaan, kerja keras, dan hidup serba terbatas selama menjadi transmigran. Solidaritas tersebut telah terbukti, di beberapa propinsi penerima transmigrasi diantaranya, Sumatera Utara, Bengkulu, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan. Para pengurus PATRI secara sukses, menduduki kursi rektor perguruan tinggi negeri, bupati, wali kota, perwira tinggi TNI/Polri, hingga anggota legislative termasuk DPR RI.

PATRI menurut Hasprabu, saat ini diibaratkan sebagai kupu-kupu, yang masih ada residu psikologis sebagai ulat. Kupu-kupu merupakan simbol keindahan, mobilitas vertikal, dan disukai petani. Sebaliknya, ulat adalah binatang yang dianggap merugikan, menjijikkan, dan ditakuti petani. Kini PATRI sudah menjelma menjadi kupu-kupu. Oleh karena itu, realitas metamorphosis ini harus segera disadari, melalui proses penguatan kapasitas dan gerakan penyadaran.

“Walaupun awalnya para orang tua mereka dianggap sebagai kaum marginal di negeri ini, tetapi ternyata anak keturunannya mampu mengkonsolidasikan diri dalam bentuk organisasi kekuatan massa yang luar biasa,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...