Pembangunan Huntara di Desa Banding Lamsel, Rampung

Editor: Makmun Hidayat

341

LAMPUNG — Puluhan kepala keluarga (KK) yang terpaksa mengungsi di dataran tinggi lereng Gunung Rajabasa akibat tsunami akhirnya bernapas lega. Pasalnya pembangunan hunian sementara (huntara) di Desa Banding, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) rampung dibangun.

Saadah (38) salah satu pengungsi asal Desa Banding menyebut sudah sebulan lebih tinggal di tenda pengungsian yang ada di kebun lereng Gunung Rajabasa sejak tsunami menerjang pada Sabtu (22/12/2018) silam. Ia mulai memindahkan barang-barang yang sementara ditempatkan di tenda pengungsian ke huntara.

Saadah, salah satu warga Desa Banding mulai menempati huntara yang dibangun oleh NU Peduli Kemanusiaan – Foto: Henk Widi

Diceritakan Saadah, akibat tsunami semua harta bendanya habis hilang tersapu tsunami, bahkan saat menyelamatkan diri dari terjangan tsunami hanya baju yang melekat di badan bisa diselamatkan. Ombak setinggi hampir lima meter disebutnya menghancurkan rumah miliknya sehingga ia harus mengungsi.

Beruntung ia menjadi satu di antara pengungsi yang mendapatkan bantuan pembangunan huntara dari 20 unit huntara dibangun Nahdatul Ulama (NU) Peduli Kemanusiaan. Bangunan huntara berukuran 6×4 meter dibangun selama hampir sebulan, sementara pengungsi tinggal di tenda pengungsi serta sebagian tinggal di rumah kerabat.

Saadah menyebut belum ingin kembali ke lokasi rumah yang pernah ditinggali di tepi pantai akibat trauma terhadap kejadian tsunami yang menghabiskan rumah dan harta bendanya.

“Hari ini saya mulai memindahkan-barang barang yang sebagian merupakan bantuan dari para donatur,relawan untuk keperluan hidup sehari-hari sembari memikirkan untuk usaha ke depan. Yang penting anak-anak saya bisa nyaman tanpa kuatir lagi akan tsunami,”terang Saadah salah satu pengungsi saat ditemui Cendana News di huntara NU Peduli Kemanusiaan dDsa Banding, Senin (4/2/2019).

Huntara dibuat seperti sebuah permukiman lengkap dengan fasilitas perumahan, mushola, kebutuhan air bersih hingga toilet komunal. Meski sudah rampung dibangun ia menyebut warga masih bertahan di tenda pengungsian, sebagian tinggal di rumah kerabat.

Sesuai rencana, penggunaan Huntara tersebut akan diresmikan pada Sabtu (9/2) mendatang oleh NU Peduli Kemanusiaan. Saadah menyebut bersyukur ada kepedulian dari para donatur terutama NU Peduli Kemanusiaan yang membangun huntara bagi pengungsi.

Pengungsi yang kehilangan rumah dan harta benda disebutnya juga belum mendapat kepastian terkait bantuan untuk membangun kembali hunian tetap (Huntap). Apalagi disebut Saadah lokasi rumah yang ditinggali olehnya merupakan lokasi yang kini dilarang dibangun kembali. Ia menyebut akan terus tinggal di huntara yang merupakan lahan milik sang ayah.

Bustami dan Rokiyah, suami istri pemilik lahan di Desa Banding yang merelakan kebun miliknya digunakan untuk pembangunan hunian sementara yang dilakukan oleh Nahdatul Ulama Peduli Kemanusiaan – Foto: Henk Widi

Bustami (70) dan Rokiyah (60) kedua orangtua Saadah warga Desa Banding yang mengungsi menyebut sudah sebulan tinggal di gubuk. Setelah melalui diskusi dengan pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Lamsel, ia merelakan sebagian lahan miliknya dipakai untuk pembangunan huntara.

“Waktu itu sebagai pengungsi saya juga diberi tawaran untuk memberikan lahan sebagai tempat hunian sementara,dipinjamkan selama setahun sekaligus membantu warga lain yang kehilangan rumah,” beber Bustami.

Ia menyebut tidak memiliki niat untuk kembali ke bekas rumah yang ada di tepi pantai desa Banding. Selain fisiknya yang sudah tidak kuat untuk menjadi nelayan, ia mengaku lebih nyaman tinggal di lereng Gunung Rajabasa, kebun sebagai sumber penghasilan baginya. Ia juga merelakan lahan seluas 110×80 meter tersebut digunakan sebagai lokasi huntara setahun ke depan.

“Huntara sudah jadi, tetapi fasilitas listrik belum ada sehingga harus membeli kabel ratusan meter untuk menyambung dari perkampungan,” beber Bustami.

Zainal Mustofa, ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Lamsel menyebut huntara di Desa Banding sudah bisa dipakai. Sementara huntara di desa Sukaraja masih dalam tahap penyelesaian.

Sesuai data NU Peduli Kemanusiaan Lamsel membangun sekitar 130 unit huntara bagi warga yang tercatat tidak bisa menempati rumahnya kembali akibat tsunami. Jumlah huntara tersebut meliputi 20 huntara di Desa Banding, 10 huntara di Desa Maja, 27 huntara di Desa Sukaraja, sisanya di Desa Tejang Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.

Zainal Mustofa, ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim, NU Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Hingga awal Februari Zainal menyebut sudah terbangun sebanyak 33 rumah untuk huntara. Jumlah tersebut meliputi sebanyak 20 huntara di desa Banding dan di dusun Pangkul, desa Sukaraja sudah terbangun sebanyak 13 huntara. Sisanya disebut Zainal Mustofa akan dibangun bertahap.

Salah satu kendala lamanya proses pembangunan huntara milik NU Peduli Kemanusiaan disebutnya terkait lahan. Lahan yang diserahkan pemilik kepada desa dengan sistem izin hak guna sebagian memiliki kontur bebatuan besar sehingga memperlambat proses pembersihan lahan (land clearing). Meski demikian pembangunan huntara berjalan dengan normal. Bangunan yang disebut diakuinya berukuran 4×6 meter dengan atap seng, dinding grc dengan cat berwana hijau.

Huntara yang dibangun diakui Zainal Mustofa memiliki ruang kamar tidur, ruang tamu serta dapur. Sejumlah huntara yang dibuat selain dikerjakan oleh relawan NU Peduli Kemanusiaan juga dibantu oleh keluarga yang akan menempati huntara tersebut.

Sejumlah warga yang akan menempati huntara diakuinya bahkan sudah mengetahui rumah yang akan ditempati. Pemilihan rumah tersebut sudah dilakukan pada awal pembangunan sehingga sejumlah warga ikut bergotong royong menyelesaikan huntara.

Semua huntara di Desa Banding dan Desa Sukaraja disebutnya dijadwalkan selesai dibangun akhir pekan ini. Warga yang sudah mendapatkan jatah huntara diakuinya sudah diperbolehkan menempati dan memindahkan barang barang. Meski secara resmi huntara tersebut direncanakan akan dibuka secara resmi pada Sabtu (9/2) mendatang menandai selesainya sebagian huntara yang dibangun NU Peduli Kemanusiaan.

Lihat juga...