Pemda Flotim Minta Tanggal Pemilu Dipertimbangkan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Pemerintah Daerah (Pemda) Flores Timur (Flotim) meminta agar pemilihan umum untuk wilayah kabupaten Flores Timur dimajukan atau dimundurkan tanggal pelaksanaannya mengingat jadwal tersebut bertepatan dengan Rabu Trewa dan sudah memasuki Tri Hari Suci bagi umat Katolik.

“Pada hari tersebut semua umat Katolik di kabupaten Flores Timur sudah mulai memasuki masa tenang menjelang Paskah. Ini yang membuat kami mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri dan KPU RI untuk meminta agar tanggal pelaksanaannya dimajukan atau dimundurkan,” sebut wakil bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, Selasa (26/2/2019).

Dikatakan Agus, sapaannya, umat Katolik di Flores Timur terutama di kota Larantuka, Konga di kecamatan Titehena dan Wure di kecamatan Adonara Barat, memiliki tradisi Semana Santa. Sejak hari Rabu umat Katolik mulai disibukkan dengan persiapan dan ritual jelang Paskah.

“Sampai sekarang kami belum mendapatkan jawaban itu baik dari Menteri Dalam Negeri maupun KPU RI soal permohonan yang kami ajukan. Pada dasarnya demokrasi dijalankan berdasarkan kepentingan kebangsaan. Nilai kebangsaan itu seperti ras, agama dan golongan,” tuturnya.

Pada tanggal 17 April yang jatuh di hari Rabu tersebut, umat Katolik di Larantuka dan Flores Timur sudah memasuki masa tenang, seperti hari raya Nyepi di Bali. Pihaknya berharap agar hal ini bisa jadi pertimbangan apalagi pemilu kali ini prosesnya lebih rumit dan berpotensi konflik.

“Pasti banyak pemilih dari luar daerah yang kemungkinan besar tidak memilih. Sejak hari Selasa sudah banyak peziarah yang datang dari luar daerah untuk mengikuti ritual Semana Santa di Larantuka,” jelasnya.

Bila permohonan pemerintah daerah Flotim tersebut tidak diakomodir, Agus mengimbau agar masyarakat khususnya umat Katolik pada pagi harinya mengikuti pencoblosan dan sore harinya Misa di gereja.

“Kalau belum ada keputusan kita memberlakukan amanah gereja Katolik, berikan kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan berikan kepada Alllah apa yang menjadi hak Allah. Pagi memilih dan sore atau malamnya ke gereja sebab memilih pemimpin juga penting,” tegasnya.

Sementara itu, pemerintah provinsi NTT pun seperti dikatakan Kapolda NTT, juga meminta hal yang sama. Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, sudah menyampaikan permasalahan ini ke pemerintah pusat.

“Kami sangat khawatir jika pelaksanaannya dilakukan pada hari Rabu tanggal 17 April 2019 tersebut, maka tentu akan sangat berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih,” kata Kapolda NTT, Irjen Pol. Raja Erizman.

Polda NTT pun, tambah Erizman, secara institusional, juga telah menyampaikan secara tertulis kepada pemerintah provinsi NTT terkait dengan permasalahan yang akan timbul ini. Apalagi ritual Semana Santa tersebut sudah berlangsung ratusan tahun.

“Kami khawatir masyarakat tidak peduli dengan pemilu sebab mereka fokus dengan kegiatan ritual keagamaan saat Semana Santa tersebut,” pungkasnya.

Lihat juga...