Pemilu 2019, ASN NTB Diminta Jaga Netralitas

Editor: Mahadeva

154
Sekretaris Daerah Provinsi NTB Rosiady Sayuti/foto : Turmuzi

MATARAM – Semua Aparatur Sipil Negara (ASN) di Nusa Tenggara Barat diminta menjaga netralitas dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Khususnya, ASN lingkup Pemprov NTB. Para ASN, diminta senantiasa menjaga netralitas, dan menjalankan tugas sesuai Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masing-masing.

“Kita adalah ASN yang netral, yang fungsi utamanya adalah pemersatu bangsa ini, tidak boleh ada ASN yang menjadi provokator, yang ikut memecah belah bangsa ini, apalagi ada yang ikut menyebarkan berita yang belum tentu benar,” kata Sekretaris Daerah NTB, Rosiady Sayuti, Selasa (19/2/2019).

Netralitas wajib dilaksanakan, mengingat selain merupakan amanat Undang-Undang ,yang memang melarang ASN terlibat politik praktis. Juga untuk memastikan ASN tidak menjadi pelaku ujaran kebencian selama pemilu. “Marilah kita lalui suasana pesta demokrasi dengan aman, damai, dan gembira, selayaknya pesta lain dengan penuh keceriaan,” tandasnya.

Rosiady menyebut, belakangan ini banyak terjadi perseteruan dan permusuhan, akibat berbeda pilihan. Khususnya pilihan untuk calon presiden dan wakil presiden. Karena itu, ditegaskannya, siapapun yang terpilih dalam pesta demokrasi april mendatang, semuanya adalah saudara.

Calon pemimpin tersebut, adalah aset terbaik yang dimiliki bangsa. “Selama kedua kandidat saling senyum, saling sapa, saling rangkul, kenapa kemudian di antara sesama pendukung di tengah masyarakat ada yang tidak bertegur sapa, harusnya ini sesuatu yang tidak boleh terjadi,” tandasnya.

“Sebagai orang beragama harusnya percaya siapapun yang terpilih adalah orang yang ditakdirkan oleh Tuhan menjadi pemimpin negara ini, oleh karena itu marilah  berdoa supaya Indonesia ini tetap menjadi negara aman dan bersatu, tidak terpecah seperti negara-negara lain,” terang Rosiady lebih lanjut.

Sebelumnya, Gubernur NTB, Zulkiflimansyah, juga meminta masyarakat tidak perlu sampai bermusuhan selama Pilpres. Masyarakat diminta menjadikan Pilpres sebagai pesta rakyat, yang dirayakan dengan penuh riang gembira. “Pemilu itu kan rakyat memilih pemimpin, jadi tidak perlu tegang-tegangan, apalagi sampai bermusuhan. Beda pilihan silahkan saja, tapi persaudaraan dan persatuan tetap dijaga,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...