Pencairan Es “Greenland” Pengaruhi Iklim Global

Editor: Mahadeva

229

JAKARTA – Peneliti iklim meyakini, mencairnya es dalam jumlah besar di Greenland, akan mempengaruhi iklim global. Faktanya, menurut data World Meteorological Organization (WMO), saat ini sudah terjadi pencairan es di wilayah Timur Laut Greenland.

Kejadian tersebut diperkirakan, mampu meningkatkan tinggi air laut global hingga 46 sentimeter.  Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto, M.Sc, menyatakan, hubungan antara pencairan es dengan iklim, terjadi karena melemahnya sirkulasi arus balik selatan utara di Samudera Atlantik atau biasa disebut AMOC (The Atlantic Meridional Overturning Circulation).

Data terbaru penelitian Postdam Institute for Climate Research di Jerman menunjukkan, pelemahan itu sedang berlangsung. “Pelemahan AMOC akan menyebabkan pendinginan suhu air laut di wilayah Atlantik bagian Utara. Sebagian dari massa air yang dingin ini, ada yang mengalir ke Selat Bering dan masuk ke Samudra Pasifik bagian Utara dan bagian Barat laut,” jelasnya, Rabu (13/2/2019).

Aliran dingin dan tekanan udara yang kuat dari Pulau Alauteian, menyebabkan jetstream atau angin jet baratan dekat kutub menguat. Dampaknya, terjadi perubahan pola iklim di interior Samudra Pasifik bagian utara.

Perubahan itu terlihat dari menguatnya gelombang Rosbi, yang akan merambat ke arah barat hingga ke wilayah Jepang, lalu terpantul mengarah ke arah selatan. Kemudian di Samudera Pasifik utara Papua, berubah memantul ke arah timur menjadi gelombang Kelvin ekuator. Gelombangnya merambat dengan lebih cepat ke wilayah Pasifik tengah dan timur. Akibatnya pola El Nino dan La Nina di wilayah itu berubah menjadi lebih sering.

Siswanto menyebut, skenario itu, dibahasnya dalam tesis saat masih di Universitas Bern, Swiss. “Dalam simulasi komputer itu, saya men-setting untuk memasukkan dua Sverdrup atau 2×10 pangkat delapan meter kubik volume air tawar ke area Samudera Atlantik bagian utara, sebagai ekuivalensi jika daratan es di Greenland mencair. Dengan pola itu, terlihat dampaknya terhadap pelemahan AMOC, seperti yang tadi saya uraikan,” papar Siswanto sambil menunjukkan simulasi yang dilakukannya di komputer.

Hasil dari simulasi, ada penurunan suhu global yang drastis hingga lima derajat. Proses ini terjadi secara bertahap. Butuh waktu yang panjang, minimal 50 hingga 200 tahun. Baru skenario bumi mendingin, dan gangguan aliran sabuk Samudera (global conveyor belt) akan terjadi.

“Pencairan es itu memang tidak secara cepat terjadi. Tetapi akibat pemanasan global, dampak itu nyata. Data WMO menyebut, di perode 1990 hingga 2014, pengurangan es terjadi dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya,” tambah Siswanto.

Efek penurunan suhu terjadi karena pelemahan AMOC, menyebabkan anomali ENSO (El Nino Southern Oscillation). “Beberapa wilayah dunia akan mengalami pendinginan, kecuali Samudera Pasifik Selatan. Sebagai akibat dari pelemahan AMOC. Terkait pola ENSO yang berubah, maka perubahan itu terjadi pada pola siklus La Nina dan El Nino. Kalau saat ini siklus ENSO adalah antara dua hingga delapan tahun, pada kondisi pelemahan AMOC itu ENSO bisa terjadi siklusnya setiap 10 hingga 12 bulan. Siklus 10 tahunan Samudera Pasifik tengah akan terkunci lebih sering pada kondisi La Nina dibandingkan El Nino,” urai Siswanto.

La Nina, sebagaimana diketahui saat ini, berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia. Hal itu juga sesuai dengan dampak pelemahan AMOC lainnya.  Pelemahan AMOC juga mempengaruhi kondisi atmosfer. “Kondisi pelemahan AMOC, akan mempengaruhi sabuk hujan karena pertemuan angin antar tropis atau ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone), bergeser lebih ke belahan bumi selatan. Sehingga hujan akan lebih sering terjadi di wilayah Selatan dibandingkan wilayah utara Bumi. Jadi terjadi perpindahan dari utara equator ke selatan equator. Indonesia juga kena,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...