Pengasapan DBD Sejumlah Kampung di Surabaya, Gratis

202

SURABAYA  – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menegaskan bahwa pengasapan (fogging) di kampung-kampung yang dilakukan puskesmas selama ini gratis tanpa pungutan apa pun.

“Apabila masyarakat ditarik biaya untuk fogging oleh puskesmas, dapat segera melaporkan ke Dinkes Surabaya,” kata Kepala Dinkes Surabaya, Febria Rahmanita di Surabaya, Rabu.

Pernyataan kepala dinkes tersebut menindaklanjuti pernyataan dari salah satu caleg DPRD Surabaya di dapil 3 yang menyebut, ada keluhan warga bahwa kalau mau di-fogging oleh puskesmas maka diminta urunan Rp10.000 per KK.

Menurut dia, pernyataan tersebut tidak benar karena dari hasil klarifikasi dengan Wakil Ketua LPMK setempat, Tamsir, diketahui bahwa tarikan biaya dilakukan oleh pengurus RT setempat. Sedangkan fogging yang dilaksanakan oleh puskesmas dilakukan secara gratis tanpa pungutan apa pun.

Fogging, lanjut dia, dilaksanakan sebagai upaya memutus mata rantai penularan demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus Dengue. Apabila pada wilayah tersebut tidak ada kasus DBD, maka upaya pencegahannya adalah melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang bertujuan untuk memberantas jentik dan telur nyamuk Aedes Aegypti.

Tentunya, penyelenggaraan pengendalian vektor harus memenuhi syarat keamanan, rasionalisasi dan efektivitas dalam pelaksanaannya. Pengendalian vektor yang menggunakan bahan bahan kimia harus dilaksanakan oleh tenaga entomolog kesehatan dan tenaga lainnya yang terlatih di bawah pengawasan tenaga entemolog.

Pelaksanaan fogging harus sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian DBD di Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan pada 2017 yakni dilaksanakan setelah dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) didapatkan hasil positif, yaitu ditemukan satu atau lebih penderita infeksi dengue lainnya dan atau lebih dari 3 penderita demam tanpa sebab yang jelas. Selain itu juga ditemukan jentik (house index > 5%).

Ada pun efek samping dari pelaksanaan fogging yang dilaksanakan tanpa berdasarkan hasil kajian Surveilance Epidemiologi dapat menyebabkan dampak persistensi yang menimbulkan gangguan kesehatan lingkungan  luas serta resistensi vektor sasaran. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...